Kondisi ini menjadi sangat ironis jika dibandingkan dengan narasi pemerintah yang kerap menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan nasional. Hal tersebut bisa kita temukan dalam pidato Presiden saat menghadiri Puncak Peringatan Hari Guru Nasional yang digelar di Jakarta International Velodrome, pada Kamis, 28 November 2024 lalu. Di sisi ini pemerintah menggembar-gemborkan program-program besar yang bersifat populis, namun di sisi lain justru mengorbankan sektor pendidikan yang menjadi akar dari pembangunan itu sendiri. Ketika anggaran pendidikan dipangkas dan kesejahteraan guru diabaikan, muncul pertanyaan besar mengenai arah dan skala prioritas kebijakan negara.
Padahal, pedidikan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban suatu bangsa. Program pemenuhaan gizi memang penting untuk mendukung tumbuh kembang seorang anak, namun tanpa pendidik yang sejahtra dan dihargai, tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa akan sangat sulit tercapai. Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih serius terhadap guru honorer, bukan semata-mata soal gaji, melainkan tentang keadilan, kemanusiaan, dan komitmen negara terhadap masa depan pendidikan Indonesia.

