MBG vs Menu Makanan Pesantren

Sementara di program MBG, makanan sering kali diproduksi secara massal, ribuan porsi, lalu didistribusikan ke banyak lokasi. Perjalanan ini butuh waktu, kadang berjam-jam, dan di situlah makanan bisa cepat rusak—apalagi jika mengandung lauk berprotein tinggi seperti ayam atau telur. Inilah yang membuka peluang pertumbuhan bakteri berbahaya seperti Salmonella atau E coli, yang bisa memicu keracunan massal.

Selain itu, pengelola dapur pondok biasanya adalah bagian dari komunitas. Ada rasa tanggung jawab moral terhadap santri. Sedangkan, dalam MBG, banyak vendor katering yang berbeda-beda. Motivasi mereka bisa jadi bukan tanggung jawab sosial, tapi sekadar mengejar efisiensi biaya untuk mendulang keuntungan. Di titik inilah kualitas dan kebersihan sering dikorbankan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Walaupun makanan di pesantren sederhana dan tampak tidak bergizi, bahkan kadang dianggap tidak higenis, jarang sekali terjadi kasus keracunan makanan sebagaimana MBG. Padahal jika dipikir-pikir tradisi pesantren ini sedah berjalan sejak puluhan tahun lamanya, sedangkan MBG yang baru beberapa bulan saja memakan banyak korban secara massal.

Tinggalkan Balasan