Urgensi Tafsir di Era Kontemporer
Di era yang serba cepat dan dipenuhi limpahan informasi seperti sekarang, kebutuhan manusia akan pedoman ilahi adalah sebuah keniscayaan. Al-Qur’an seyogyanya tidak hanya menjadi penghias rak buku dan lemari belaka. Akan tetapi benar-benar dibaca dan dipahami substansi ayatnya, agar maknanya sampai dan merelung dalam setiap jiwa seorang Muslim. Sehingga ayat-ayat inilah yang nanti akan mengontrol segala tindak tanduk manusia.

Al-Qur’an (QS. Yunus: 57) menjelaskan bahwa kalam Allah yang berupa Al-Qur’an merupakan pedoman hidup yang berfungsi sebagai mau’izah (pelajaran/nasihat), syifa’ (penyembuh penyakit hati/jiwa), serta huda dan rahmah (petunjuk dan kasih sayang) khusus bagi orang beriman.
Sejalan dengan itu, dalam bukunya pada tafsiran surah Al-A’la ayat 3, Gus Nadir mengkisahkan seorang ustaz yang berceramah akan rahmat Allah yang telah menetapkan takdir bagi setiap makhluk. Allah juga memberi petunjuk pada mereka agar mampu menjalani kehidupan, sesuai tujuan penciptaan manusia (hlm. 202).
Salah satu cara memahami petunjuk yang diberikan Allah adalah melalui Al-Qur’an. Maka membaca, mempelajari, dan mengamalkannya merupakan sebuah keniscayaan. Jika ingin menjalani hidup sesuai tujuan penciptaan manusia―beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi.
Faruq―sebagai orang yang menerima nasihat dalam kisah―percaya, sebagaimana Allah menuntun burung di udara, Allah juga akan menuntun langkahnya menuju cahaya (hlm. 203).
