Artinya: “Dan yang dimaksud dari sepuluh hari (awal bulan Zulhijah) adalah sembilan hari. Terhitung (mulai) tanggal 1 Zulhijah. Karena 10 Zulhijah menjadi hari ke Baitullah (haji). Kemudian suatu waktu lebih utama daripada waktu yang lain, maka mengerjakan amal kebaikan didalamnya juga lebih utama.”
Kemudian ada spesifikasi mengenai hari ke-8 dan ke-9 (meskipun bahasanya juga bersandar pada bahasan shiyamul ‘asyr Zulhijah. Hari ke-8 kita kenal sebagai hari puasa tarwiyah dan puasa hari ke-9 dikenal dengan puasa arafah. Dan hujah dari puasa ini adalah hadis-hadis riywat Muslim, Qatadah, ad-Dailami, dan Ibnu Jauzi yang berbunyi,

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية
Artinya: “Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang lalu dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lalu.”.(HR. Muslim)
قال رسول الله صلي الله عليه وسلم صوم عاشوراء كفارة سنة وصوم يوم عرفة كفارة سنتين سنة قبلها ماضية وسنة بعدها مستقبلة
Artinya: “Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, ‘Puasa hari Asyura’ bisa menghapus dosa selama setahun. Puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun. Setahun sebelumnya dan setahun yang akan datang.”(HR. Qatadah)
صوْم يوْم التّرْوية كَفّارة سنة، وصوْم يوْم عرفة كفّارة سَنتيْن
Artinya: “Puasa pada hari tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun.” (HR. Ad-Dailami)
قال رسول اللّه صلَّى اللّه عليه وسلّم: من سام الشعر قله بكلّ يوم ثوم شهر، وله بصوم يوم التّروية سنة، وله بصوم يوم عرفة سنتان
Artinya: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: siapa yang berpuasa pada sepuluh hari pertama Zulhijah, maka dia setiap puasa satu harinya seperti puasa sebulan. Dengan berpuasa di hari Tarwiyahnya dia mendapatkan nilai puasa setahun. Dengan berpuasa di hari Arafahnya mendapat nilai puasa dua tahun”.(HR. Ibnu Jauzi)
Hadis-hadis tersebut adalah hujah puasa Tarwiyah dan Arafah. Dalam beberapa syarah hadis, Nabi tidak menganjurkan (tidak sunnah) puasa Arafah bagi orang yang melaksanakan ibadah haji. Ada juga hadis populer (masyhur) riwayat Aisyah RA, yang menyebutkan Nabi tidak berpuasa pada waktu-waktu itu. Tetapi para periwayat hadis juga mendeteksi adanya riwayat (Hunaidah ibn Khalid) dari istri Nabi lainnya yang mengetahui atau menyaksikan bahwa Nabi berpuasa pada waktu Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah. Sehingga para fuqaha dan muhadis mentaqrir hal tersebut agar puasa ini tidak terkesan wajib.
Sebagai catatan akhir, puasa Arafah tidak mengikuti Saudi, melainkan melalui pantauan hilal sesuai negara masing-masing dalam penentuan 9 Zulhijah. Kemudian, beberapa hadis derajatnya marfu’ dan maudhu’. Tetapi para ulama, khususnya madzab Syafi’i, tetap menjadikanya sebagai sandaran sebagai fadhailul ‘amal dan menyimpulkan bahwa puasa sepuluh hari Zulhijah, Tarwiyah, dan Arafah adalah sunnah yang juga merujuk pada banyaknya dan kesaksian hadis-hadis di atas. An-Nawani dalam al-Maj’mu (hal. 387) menjelaskan, hadis-hadis yang derajatnya marfu’ dan maudhu’ mengenai puasa Zulhijah masih dapat dikompromikan (karena kesaksian dan banyaknya hadis). Ad-Darimi dalam An-Najmul Wanhaj (h. 355) mengatakan,
ويستحب ثوم يوم التّروية مع يوم عرفة احتياطا
Artinya: “Dan disunnahkan untuk berpuasa pada hari tarwiyah beserta hari Arafah sebagai tindakan hati-hati.”
Wallahu ‘alam.
