Membaca Kembali Kritik Rendra dalam Puisi

Membaca Kembali Kritik Rendra dalam Puisi
Khanafi

Demokrasi Indonesia yang pernah digambarkan wataknya oleh Mohammad Hatta dalam bukunya yang masyhur; Demokrasi Kita, memang sungguh mengkhawatirkan. Apalagi jika dibiarkan tanpa kritik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Gejala yang pernah ditulis Mohammad Hatta dalam buku tersebut hampir serupa dengan apa yang terjadi di tahun-tahun terakhir ini. Karena itu, tentu saja kekuasaan membutuhkan “nasihat” dan “peringatan” agar bangsa Indonesia yang berada di arah yang benar dan tidak terjerumus ke lembah kehancuran.

Agaknya nasihat Mohammad Hatta ketika itu tidak didengar oleh penguasa, bahkan bukunya dilarang beredar. Seperti hari-hari ini, nasihat para guru besar dan budayawan-seniman tak didengar oleh penguasa. Keadaan ini mengkhawatirkan dan bisa menjadi bom waktu di masa depan.

Menyaksikan demokrasi kita yang semakin “membusuk” itu agaknya penting bagi kita untuk kembali mengingat nasihat lewat puisi-puisi kritis dari penyair besar WS Rendra.

Dengan membaca sajak-sajak pamflet Rendra, kiranya kita bisa lebih simpati dan malah justru (harus) empati kepada mereka yang menjadi korban kerusakan demokrasi. Dalam rangka “memulihkan kesadaran” dan “menumbuhkan jiwa yang penuh rasa empati” itulah artikel ini dimaksudkan, yaitu sebagai catatan kecil sekaligus upaya mengembalikan ingatan bangsa ini tentang betapa mengerikan dan mirisnya “efek pembangunan” seperti di masa Orde Baru itu.

Tidak ada kekuasaan yang abadi, apalagi kekuasaan yang menggunakan tangan besi. Maka, saya lebih percaya bila puisi memang (mesti) abadi lebih daripada tangan besi. Sebab, puisi mampu membawa nilai-nilai kemanusiaan yang tetap akan relevan untuk segala zaman. Terlebih jika puisi itu mengandung kritik kepada kekuasaan yang dianggap berlaku tidak adil dan sewenang-wenang. Padahal kekuasaan mereka toh hanya titipan rakyat yang mestinya dikelola dan dibagikan kembali untuk kesejahteraan rakyat, bukannya kepentingan pribadi atau segelintir elite.

WS Rendra menjadi salah satu penyair yang sajak-sajaknya (mesti) abadi. Selain sajak-sajaknya, jugalah tulisan-tulisan dan pemikirannya mesti dikenang dan dibaca kembali.

Sungguh sayang nama penyair besar ini tidak lagi banyak dibicarakan. Padahal, kiprahnya sebagai penyair telah mendunia, bukan hanya puisinya (seperti Chairil Anwar yang puisinya pernah diantologikan ke dalam kumpulan puisi penyair dunia; The Ecco Anthology of International Poetry yang dieditori oleh Ilya Kaminsky dan Susan Harris), terlebih secara fisik Rendra pernah berkeliling membacakan sajak-sajaknya di negeri-negeri dingin dengan mempesona, dan pernah mendapat pujian dan pelukan hangat dari penyair besar Chili; Pablo Neruda. Bahkan, pernah keluar statemen dari Rendra; penyair mengharumkan nama bangsa!

Dalam kumpulan sajak WS Rendra; Potret Pembangunan dalam Puisi, yang sempat mendapat kritikan karena puisi-puisinya nampak lugas dan vulgar (menurut beberapa pandangan penyair dan kritikus ketika itu), terdengar jelas suara kritisnya yang menggedor “nurani” kekuasaan.

Sebenarnya bahasanya bukan lugas dan vulgar, tetapi menurut saya penuh dengan kejernihan pikiran dan pandangan yang kritis tentang kemanusiaan. Memang kekuasaan tidak punya nurani, tetapi orang-orang yang memegangnya tentulah masih manusia yang bernurani, di situlah Rendra ingin berbicara kepada kita; manusia.

Maka, dalam lembar awal buku tersebut, tertulislah kata-kata yang menjadi kesaksian penyair: Akumendengar suara/jerit hewanyang terluka//Ada orang memanah rembulan//Ada anak burung terjatuh dari sarangnya//Orang-orang harus dibangunkan//Kesaksian harus diberikan//Agar kehidupan bisa terjaga//.

Sajak itu ditulis Rendra, di Yogyakarta pada 1974. Dalam terminologi filsafat Aristoteles, disebutkan bahwa manusia adalah hewan (yang) berpolitik, dan Rendra menyiratkannya dalam potongan sajak itu; kita adalah hewan yang terluka dan menjerit karena telah dibohongi oleh kekuasaan.

Tinggalkan Balasan