Membaca Kembali Kritik Rendra dalam Puisi

Kata penyair lagi; ada orang memanah rembulan tapi anak burung terjatuh dari sarangnya, yang bisa saja bermakna ada orang (berkekuasaan) yang katanya tengah memanah rembulan (meraih cita-cita/ melakukan kebaikan), tapi ternyata ia melukai burung (metafor hewan yang menggambarkan manusia) sehingga jatuh dari sarangnya (tergusur dari rumahnya), dan jeritnya didengar oleh penyair; aku mendengar suara/jerit hewan yang terluka.

Dalam sajak-sajak WS Rendra yang lain dalam buku yang sama, banyak disinggung soal orang miskin (Orang-orang Miskin), mereka yang kalah (Lagu Seorang Gerilya, Sajak Peperangan Abimayu), persoalan pendidikan termasuk yang porsinya besar di buku tersebut (Sajak Sebatang Lisong, Sajak S.L.A., Sajak Seonggok Jagung, Sajak Anak Muda, Sajak Pertemuan Mahasiswa, Sajak Tangan), nasib pembantu dan perempuan yang malang (Sajak Gadis dan Majikan), dan persoalan sosial politik dan masalah kebudayaan lain (Sajak Burung-burung Kondor, Sajak Mata-mata, Sajak Pulau Bali, dan seterusnya).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Persoalan yang didedahkan Rendra dalam kumpulan sajaknya tersebut benar-benar masih relevan dengan keadaan kita hari ini. Betapa tidak? Misalnya, dalam pembukaan Sajak Sebatang Lisong yang menggambarkan negeri ini masih dikuasai para cukong dan oligark, sedangkan rakyat tak ubahnya seperti tempat pembuangan kotoran mereka: Menghisapsebatanglisong/melihatIndonesiaRaya/mendengar130juta rakyat/dan di langit/dua tiga cukong mengangkang/berak di atas kepala meraka//.

Kemudian, digambarkan bagaimana pendidikan kita yang masih tidak merata, dan kebingungan anak-anak akan masa depan seakan tidak pernah akan dapat diselesaikan: Matahari terbit//Fajar tiba//Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak/tanpa pendidikan//Aku bertanya/tetapi pertanyaan-pertanyaanku/membentur meja kekuasaan yang macet/dan papan tulis-papan tulis para pendidik/yang terlepas dari persoalan kehidupan//Delapan juta kanak-kanak/menghadapi satu jalan panjang/tanpa pilihan/tanpa pohonan/tanpa dangau persinggahan/tanpa ada bayangan ujungnya//.

Rendra membayangkan pada tahun 1977 itu sebagai masa yang darurat, nasib anak-anak bangsa seakan menjadi nasib yang tidak akan pernah seperti diberitakan akhir-akhir ini, yaitu menemui tahun emasnya pada tahun 2045 nanti. Sebab, kondisi-kondisi yang sama pun masih berlaku, apalagi dengan berita yang ramai bahwa UKT hari-hari ini naik begitu tinggi.

Persoalan lainnya, misalnya tentang nasib jurnalisme yang tingkat kebebasan berekspresinya semakin berkurang seperti, terbaca di berita hari-hari ini tentang akan terbitkan undang-undang penyiaran.

Dalam sajak Rendra berjudul Sajak Mata-mata disinggungnya soal itu: Pendengaran dan penglihatan/menyesakkan perasaan/membuat keresahan-/Ini terjadi karena apa-apa yang terjadi/terjadi tanpa kutahu telah terjadi//Aku tak tahu//Kamu tak tahu//Tak ada yang tahu//Betapa kita akan tahu/kalau koran-koran ditekan sensor/dan mimbar-mimbar yang bebas telah dikontrol//.

Selanjutnya, Rendra mengingatkan kita bahwa Koran-koran adalah penerusan mata kita/Kini sudah diganti mata yang resmi//Kita tidak lagi melihat kenyataan yang beragam//Kita hanya diberi gambaran model keadaan/yang sudah dijahit oleh penjahit resmi//.

Tentu saja, ada metafora-metafora yang dimainkan sang penyair, seperti koran sebagai mata kita (mata rakyat), dan model kenyataan yang dijahit (berita/opini yang dikendalikan), penjahit resmi (pemerintah/kekuasaan).

Begitu banyak yang Rendra ingatkan kepada kita dalam kumpulan sajak tersebut, bahwa kritik itu penting, bersikap kritis itu penting, ketidakadilan tidak boleh kita biarkan, kekuasaan dan penguasa harus kita awasi dan kritisi ketika mereka sudah cawe-cawe ( bertindak sewenang-wenang). Sebab jika hal-hal tersebut dibiarkan, masalah-masalah yang Rendra persoalkan puluhan tahun lalu tidak pernah akan selesai, dan malah bisa jadi semakin parah.

Demokrasi kita hari ini tak ubahnya demokrasi kita dahulu, yaitu demokrasi yang “ceroboh” jika tidak mau dikatakan demokrasi yang diperbudak “keserakahan”.

Seperti apa yang pernah ditulis Mohammad Hatta, dulu demokrasi melakukan kesalahan karena ulahnya sendiri (beliau tidak mau menyalahkan Soekarno), dan akan insyaf karena perbuatannya itu yang telah merugikan bangsa Indonesia. Tentu kita menunggu kapan demokrasi itu akan benar-benar insyaf dan menjadi dirinya yang sejati.

Nasihat telah diberikan Bung Hatta untuk mengingatkan demokrasi kala itu, walaupun tidak pernah masuk dan menjadi kesadaran penguasa ketika itu. Begitu pula, sajak-sajak kritis WS Rendra telah ditulis dan dibacakan di panggung-panggung pertunjukan dengan penonton yang ribuan, tetapi masih juga tidak didengar, malah mengalami pelarangan, nasib yang sama seperti buku Bung Hatta.

Tinggalkan Balasan