Membaca Kembali Kritik Rendra dalam Puisi

Kini, kita harus mengingat kembali kesaksian mereka yang peduli pada nasib bangsa ini, yang bukan hanya berkata manis di depan kamera tetapi bertindak “brutal” di baliknya. Kita seakrang harus menanam kesadaran, bahwa berita-berita kritis yang terbit di Majalah Tempo, dan penerbit berita lainnya yang kritis, bukanlah suatu cerita belaka atau omon-omon. Jurnalisme perlu dijaga, tentu untuk menumbuhkan kesadaran kritis, kita juga perlu ingatan yang jernih tentang keadaan.

Membaca sajak-sajak Rendra adalah salah satu obat mujarab penolak lupa dan kedunguan dalam melihat persoalan sejarah dan bangsa. Izinkan saya mengakiri catatan kecil ini dengan puisi WS Rendra (saya cantumkan utuh untuk menghargai penyair besar kita dan memberikan gambaran pada kita tentang hari ini yang belum berubah), berjudul Aku Tulis Pamflet Ini:

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku Tulis Pamflet Ini

Aku tulis pamflet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an.

Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi.
Ketidak-pastian merajalela.
Apa yang pasti hanya yang datang dari kekuasaan.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki,
menjadi marabahaya,
menjadi isi kebon binatang.

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam.
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan.
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan.

Aku tulis pamflet ini
karena pamflet bukan tabu bagi penyair.
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku.
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
yang teronggok bagai sampah.
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.

Aku tulis pamflet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara.
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca:
ternyata kita, toh, manusia!

27 April
1978
Pejambon
Jakarta.

Tinggalkan Balasan