Pada 9 Maret 1942, pimpinan angkatan perang Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Gubernur Jenderal Hindia Belanda menyerah dan ditawan Jepang. Pertengahan 1942, aku dipanggil oleh KH A Wahid Hasyim agar menemuinya di Hotel Des Indies Jakarta. “Di Jawa dan Madura, di tiap-tiap karesidenan akan dibentuk kantor urusan agama, “Shumuka”. Santri-santri lulusan Tebuireng banyak tersebar di mana-mana, memudahkan usaha kita membentuk kantor-kantor urusan agama daerah. Prinsipnya, kita membantu kita sendiri melalui kesempatan yang mereka berikan. Beliau memberi tugas kepadaku untuk meratakan pandangan di kalangan para ulama dan dunia pesantren tentang tahap perjuangan menghadapi Jepang sebagai penjajah baru. Kiai Wahid bersahabat dengan Mr M Yamin, yang kenal baik dengan Mr Iwa Kusumasumantri dan Mr Subarjo yang dekat dengan AL Jepang. Yamin juga dekat dengan Soekarno-Hatta yang sedang didekati olah AD Jepang. Diusulkannya kepada Jepang, lewat Abdulhamid Ono, agar untuk pemuda-pemuda santri dibentuk tentara Hizbullah yang bertugas membela dan mempertahankan tanah air Indonesia. Seperti halnya PETA.
Awal 1944, sudah empat bulan Hizbullah terbentuk di seluruh Jawa dan Madura, juga di sebagian Sumatera dan Kalimantan. Markas tertinggi Hizbullah di Jakarta, Zainul Arifin sebagai panglimanya. Di Jombang, di bawah pimpinan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH A Wahab Chasbullah diselenggarakan riyadhah rohani di kalangan para ulama untuk meningkatkan semangat pembelaan tanah air juga mengamalkan beberapa wirid: Hizbur Rifai, Hizbul Bahr, Hizbun Nawawi, dan lain-lain. Embrio “Barisan Sabilillah” disiapkan kelahirannya.

Bangsa Indonesia telah matang berpikir bahwa Jepang akan dikalahkan. Sebelum Jepang menjadi taklukan sekutu, kita siap merdeka. Detik-detik kekosongan kekuasaan, Jepang menyerah dan sekutu belum tiba di Indonesia. Inilah saat paling tepat memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 bertepatan 17 Ramadhan 1365 H. Di dada mereka tersemat lencana merah putih, saat berpapasan satu dengan yang lain meneriakkan pekik “Merdeka” dengan mengepalkan tinjunya ke udara. Pesantren telah berubah menjadi markas Hizbullah. Pengajian telah berubah menjadi latihan menggunakan senjata. Di mana-mana berdiri Barisan Sabilillah, yang dipimpin KH Masykur. Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia dipimpin Bung Tomo. Barisan Banteng dipimpin Dr Muwardi. Laskar Rakyat dipimpin Ir Sakirman. Laskar Pesindo dipimpin Krissubanu.
Di Parakan Wonosobo, berdiam seorang ulama, Kiai Haji Subeki, berusia sekitar 90 tahun. Beliau memberikan bekal doa kepada anak-anak Hizbullah dan Sabilillah Parakan. Sambil berbaris dengan bambu runcingnya, masing-masing diberkahi oleh Kiai Subeki dengan doanya: Bismi Allahi, Ya Hafidzu, Allahu Akbar. Dengan Nama Allah, Ya Tuhan Maha Pelindung, Allah Maha Besar. Anak-anak Hizbullah dan Sabilillah Parakan bergabung sesama rekannya dari seluruh daerah Kedu berangkat ke pertempuran, baik di Surabaya maupun Semarang dan Ambarawa. Panglima Besar Jenderal Sudirman dengan anak buahnya pun singgah ke Parakan untuk meminta berkah doa Kiai Subeki sebelum menuju ke Ambarawa dan lain-lain pertempuran. Aku pernah mendampingi KH A Wahid Hasyim, KH Masykur, dan Zainul Arifin menemui Kiai Subeki di rumahnya.
Saat pecah pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Kongres Umat Islam Indonesia di Yogya melahirkan Partai Masyumi. Ketua Majelis Syuro dipercayakan kepada Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, dan KH A Wahab Chasbullah sebagai wakilnya. Hizbullah dan Sabilillah tetap dalam kepemimpinan Zainul Arifin dan KH Masykur, komando politik dipegang KH A Wahid Hasyim selaku Ketua Dewan Pertahanan Masyumi. Aku, selaku komandan Hizbullah dan Sabilillah daerah Kedu, juga menjalin komunikasi koordinasi dengan M Sarbini dan A Yani selaku komandan TKR Magelang.
Umat Islam melakukan gerakan batin: membaca Qunut Nazilah dalam tiap-tiap salat, di samping kesiagaan kekuatan militer. Sejak Januari 1946, ibu kota RI dipindahkan dari Jakarta ke Yogya. Jakarta telah dikuasai sekutu dan NICA. Perjanjian Linggarjati dilakukan oleh kabinet Syahrir, mengakibatkan daerah kekuasaan RI tinggal Jawa dan Sumatera. Pada 21 Juli 1947, Belanda melakukan serangan tiba-tiba terhadap daerah RI. Dalam serangan ini, kota perjuangan pusat markas tertinggi Hizbullah – Sabilillah Malang jatuh. Daerah RI makin menciut tinggal selebar godong kelor meliputi: garis Mojokerto di sebelah timur dan Gombong (Kebumen) di sebelah barat dengan Yogya sebagai pusatnya. Pada 17 Januari 1948, Perjanjian Renville ditandatangani oleh kabinet Amir Syarifuddin. TNI, yang berada di daerah-daerah dikuasai Belanda, harus ditarik ke daerah RI. Maka Divisi Siliwangi harus hijrah ke Yogya.
“Kita harus tentang kebijaksanaan Amir Syarifuddin yang sedang menyiapkan kekuatan komunis dalam republik kita. Hentikan perundingan. Mobilisasi kekuatan untuk bertempur. Kalau seluruh daerah Indonesia berkobar pertempuran, Belanda akan gulung tikar. Semua kaum militer kita berpikir demikian,” kata KH A Wahid Hasyim. Yogya, pertengahan 1948, menjadi kancah pertarungan politik. Kaum republik mengarahkan perlawanannya kepada Belanda dan kaki tangannya, juga kepada aksi-aksi Front Demokratik Rakyat/PKI yang dipimpin Amir Syarifuddin dan Alimin. Golongan Islam dan Nasionalis memandang bahwa FDR/PKI, melalui kerja samanya dengan partai komunis Belanda, adalah agen Belanda. Mereka membela persetujuan Linggarjati dan Renville yang menguntungkan Belanda. Pertengahan 1948, kabinet Amir Syarifuddin jatuh karena perlawanan Masyumi, PNI, dan badan-badan kelaskaran yang sejak semula menentang persetujuan Linggarjati dan Renville. Wakil Presiden Hatta membentuk kabinet baru. “Kita harus ikut duduk dalam kabinet Hatta ini untuk melenyapkan munkarat. Kalau kita cuma berdiri di luar kabinet, kita cuma bisa teriak-teriak tok,” pendapat KH A Wahab Chasbullah. Pada 18 September 1948, FDR/PKI Muso mengadakan pemberontakan terhadap kekuasaan RI di Madiun. “Saudara-saudara boleh pilih, ikut Soekarno atau Muso!” demikian antara lain pidato Bung Karno, Presiden RI.
Suatu hari, aku diajak KH A Wahid Hasyim menengok Pak Dirman yang sedang sakit berat. “Mas Wahid, Mas baik sekali kalau datang lagi kepada Bung Karno, menjelaskan situasi yang sebenarnya dewasa ini. Kemarin dulu saya katakan kepada beliau tentang persoalan kita dengan Belanda. Janganlah pemerintah meremehkan kemungkinan Belanda melakukan serbuan ke Yogya. Saya seorang militer, saya menghargai pandangan politik pemerintah, pandangan secara militer juga hendaknya dipertimbangkan.” Pada 19 Desember 1948, Belanda menyerbu Yogya. Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, H Agus Salim, dan lain-lain pemimpin RI telah ditawan Belanda dan diasingkan di Pulau Bangka. Pimpinan pemerintahan darurat dipercayakan kepada Mr Syafruddin Prawiranegara yang ada di Sumatera. Pimpinan perjuangan bersenjata dipegang Pak Dirman. Panglima Besar Sudirman memimpin perang gerilya, perang semesta di seluruh Indonesia.
