Membaca Ulang Perjuangan Santri: KH Saifuddin Zuhri

Malam, 9 Januari 1949, aku menyelenggarakan pertemuan dengan 85 ulama di suatu tempat di kaki Gunung Sumbing. Mereka bertekad bulat mengadakan gerakan rohani: bersama-sama umat Islam puasa sunat tiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Islam; salat hajat dan amal saleh; hidup prihatin dalam suasana jihad; membantu pemerintah militer setempat dalam aksi perang gerilya.

Perlawanan kaum republik, dengan taktik perang gerilya, semakin hebat terhadap aksi militer Belanda. Mei 1949, Jenderal Spoor, panglima tentara Belanda, tewas dalam kecelakaan pesawat terbang. Kaum republik menyatakan bahwa kecelakaan itu karena pesawatnya ditembak kaum gerilya. Kegiatan diplomasi di Dewan Keamanan PBB menghasilkan keputusan agar Belanda meninggalkan seluruh daerah RI. Yang sudah pasti adalah karena pertolongan Allah SWT. Menjelang Agustus 1949, Yogya dalam suasana bersyukur. Soekarno-Hatta dan lain-lain pemimpin republik telah berada kembali di ibu kota. Orang terakhir yang memasuki ibu kota adalah Pak Dirman. Panglima Besar Sudirman memasuki ibu kota dengan diusung di atas tandu dan dalam pakaian gerilya dengan ikat kepala berwarna wulung, hitam pekat. Perayaan 17 Agustus 1949 diliputi suasana kegembiraan dan keharuan. Pada 23 Agustus 1949, Bung Hatta memasuki ruangan Ridderzaal Den Haag negeri Belanda untuk menghadiri KMB dengan Belanda. Kemudian pada Hari Angkatan Perang 5 Oktober 1949, segenap pasukan gerilya berparade di hadapan Panglima Besar Sudirman. Betapa seorang santri menjadi Panglima Besar dari suatu negeri yang habis dikoyak-koyak musuh, masih tegak berdiri lebih sentausa dari sedia kala. Dari pesantren mereka kembali ke pesantrennya masing-masing dengan satu harapan, semoga amalnya diterima Allah sebagai amal saleh.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Menjelang pemilu 1955, PKI membuat gara-gara: tanda gambar palu-arit dengan kalimat “PKI dan orang tak berpartai”. Partai Nahdlatul Ulama protes keras. Karena protes ini, pemerintah mengadakan pertemuan segi empat: Menteri Dalam Negeri, Panitia Pemilihan Indonesia, NU, dan PKI (Aidit). Kiai Idham Chalid mewakili NU dalam perundingan itu. Pokoknya, NU meminta keras kepada pemerintah agar kata-kata “PKI dan orang tak berpartai” dilenyapkan. Mendagri memerintahkan PKI harus menghapus kalimat tersebut.

***

Melalui buku Guruku Orang-orang dari Pesantren, tergambar bagaimana KH Saifuddin Zuhri, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, KH A Wahab Chasbullah, KH A Wahid Hasyim, dan segenap para kiai dan santri-santri serta komponen-komponen bangsa Indonesia telah menjadi pelaku sekaligus saksi sejarah kehidupan bangsa Indonesia dalam tiga zaman: masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, dan masa kemerdekaan Republik Indonesia. Pengabdian dan perjuangan para kiai dan santri-santri dalam mengabdi kepada Allah SWT dan berkhidmat terhadap bangsa Indonesia merupakan juga suatu pendakian spiritual untuk mencapai dan meraih maqom mulia Insan Kamil, manusia sempurna, bila ia luput dari derajat kewalian atau kenabian.

Kiranya pengabdian dan perjuangan mereka, khususnya para kiai dan santri, bisa menjadi pelajaran dan suri tauladan bagi kita semua dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang kita cintai ini. Zaman beredar, perubahan terjadi, berakibat positif dan negatif. Yang senantiasa tetap adalah kontestasi kebaikan dengan kejahatan, sejak masa Nabi Adam AS hingga masa Nabi Muhammad SAW, sampai dengan masa kini.

Dalam konteks kontemporer, demi melindungi dan memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), santri harus mampu memperbarui siasat guna menghadapi modernitas kapitalisme global?

Rumah Merah Kukusan, 09052020.

Tinggalkan Balasan