Membangkitkan Kembali Api Pancasila dari Tebuireng

Pernyataan ini bukanlah hiperbola, melainkan sebuah pengingat akan kontribusi Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan putranya, KH Wahid Hasyim. Misalnya, jiwa besar KH Wahid Hasyim, yang rela mencabut tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yaitu “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” menjadi bukti nyata pengorbanan demi persatuan bangsa.

Tindakan ini, menurut Roziqi, sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW dalam Piagam Madinah, yang menunjukkan bahwa kaum santri telah menempatkan kepentingan bersama di atas golongan. Lebih dari itu, santri Tebuireng meyakini bahwa Pancasila bukanlah sekadar teks, melainkan laku, sebuah praktik yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di pesantren, para santri secara tak langsung sudah pancasilais. “Hal itu dikarenakan berkat teladan pendiri pesantren,” ungkapnya. Dengan demikian, Pancasila tidak lagi hanya menjadi sebuah konsep, melainkan sudah terinternalisasi sebagai perilaku.

Meskipun demikian, diskusi ini juga mengungkap pandangan berbeda. Dr. Irene Camelyne Sinaga menyoroti bahwa Pancasila belum sepenuhnya mengakar di kalangan masyarakat. Tantangan dalam menyelaraskan nilai formal negara dengan kearifan lokal masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Namun, keberhasilan Pancasila dalam menyatukan ribuan suku, bahasa, dan budaya di Indonesia tak dapat dimungkiri. Oleh karena itu, tugas BPIP adalah terus menghidupkan dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila. “Pancasila tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus menjelma menjadi sebuah laku yang nyata,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan