Kultur feodal di pesantren juga dapat mematikan kreativitas para santri. Salah satu contohnya ialah budaya bertanya kepada kiai yang dianggap sebagai suul adab. Hal tersebut dapat mengakibatkan santri takut untuk berpikir kreatif, padahal bertanya merupakan tanda seseorang sedang berpikir. Oleh karena itu, melarang santri bertanya sama saja menghalang-halangi mereka untuk berpikir kreatif. Pun santri yang menjadi korban feodalisme, secara mental, akan menjadi pribadi yang penakut dan lemah dalam kepribadian. Mereka tidak berani untuk berkompetisi—dengan kata lain, menyerah sebelum bertanding—dalam hal apapun. Ditambah paham determinasi yang begitu kental di dunia pesantren, yang akhirnya mengakibatkan para santri kehilangan optimisme dalam menjalankan kehidupannya.
Kultur “pemasungan” kreativitas di dunia pesantren juga bisa dibilang terjadi secara masif. Salah satu bentuk ialah dengan disebarkannya cerita-cerita yang tidak terverifikasi kebenarannya dan tidak masuk akal. Cerita-cerita tersebut dianggap sebagai sebuah keajaiban, mukjizat, atau pun karamah. Salah satu buktinya ialah tentang mitos ilmu ladunni yang dimiliki oleh anak kiai. Perlu diketahui, ilmu ladunni merupakan ilmu yang didapatkan tanpa ada proses belajar.

Hal itulah yang bertentangan dengan hukum kausalitas. Sebab, tidak mugkin seseorang menjadi pintar tanpa ada proses belajar. Nah, mitos tersebut dibangun agar mereka dianggap sebagai orang yang hebat. Tentu, motifnya ialah untuk mempertahankan status quo sebagai pemimpin pesantren.
