Membongkar Wacana Hegemonik Pesantren

Oleh karena itu, jika menurut Hegel manusia modern cenderung berpikir secara positivistik, berbeda dengan dunia pesantren yang masih mempertahankan cara berpikir mistis-mitologis ala masyarakat konservatif.

Asupan makanan para santri di pesantren pun dinilai sangat kurang. Santri hanya biasa diberi makan dengan nasi dan sambal, padahal di masa tumbuh kembang seorang anak, setidaknya asupan gizi empat sehat lima sempurna harus tercukupi. Makanan bergizi seperti daging justru tidak pernah didapatkan di pesantren. Jikalau pun ada, dapatnya pun tak seberapa banyak. Itu pun hanya setahun sekali saat momen Idul Adha tiba. Maka tak heran apabila banyak santri yang mengalami stanting (gizi buruk). Hal itu juga yang menyebabkan banyak santri lambat dalam berpikir.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pesantren yang dikenal oleh masyarakat sebagai pusat pendidikan Islam sedang menghadapi tantangan zaman. Pasalnya, pesantren yang mestinya mampu melahirkan kalangan muslim intelektual, justru sebaliknya, malah bisa melahirkan beban bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sudah saatnya pesantren melakukan transformasi dan berbenah demi melahirkan generasi-generasi yang mampu memajukan umat dan bangsa. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Tinggalkan Balasan