Membumikan Pemikiran Gus Dur Bersama Kelas Penggerak Gusdurian

Nilai kelima, yaitu pembebasan. Nilai ini bersumber dari kesadaran untuk menegakkan kesetaraan dan keadilan agar terlepas dari berbagai macam belenggu. Semangat pembebasan ini hanya dimiliki oleh mereka yang berjiwa merdeka, bebas dari rasa takut, dan otentik.

Keenam, nilai persaudaraan. Gus Dur memegang prinsip penghargaan pada kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan. Sepanjang hidup Gus Dur sudah meneladankan sikap ini. Banyak kita lihat ketika ia menjalin persaudaraan dengan lintas agama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selanjutnya, nilai ketujuh, yaitu kesederhanaan. Nilai ini bersumber dari pikiran subtansial, sikap, laku hidup yang sewajarnya tidak berlebih-lebihan. Bagi Gus Dur, kesederhanaan menjadi perlawanan terhadap sikap matrealistis, korup, dan berlebihan.

Nilai kedelapan, yaitu kesatriaan. Nilai ini bersumber dari rasa berani untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai yang diyakini untuk menjapai apa yang akan diraih. Kesatraan yang ada dalam diri Gus Dur terlihat dalam kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani hidup seberat apapun.

Terakhir, nilai kesembilan, kearifan tradisi. Nilai ini bersumber dari sosial-budaya yang berpijak dalam tradisi masyarakat Indonesia. Nilai ini juga terwujud dalam konstitusi UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan seluruh tata nilai ketimuran.

Sembilan nilai tersebut dijadikan materi utama yang harus dipahami dan direfleksikan para peserta dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, jika ingin menjadi penggerak Gus Durian, maka harus membangun pandangan sebagaimana Gus Dur meneladankan.

Menurut saya, Gus Dur masih hidup dalam nilai-nilai yang diajarkannya. Semangat membumikan nilai-nilai Gus Dur ini sebagai salah satu upaya menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, di era distrupsi seperti ini, kita mudah diadu domba atas nama agama dan saling membenci satu sama lain sampai melupakan nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang. Pemikiran Gus Dur sangat reflektif sekali dengan alam pikiran masyarakat Indonesia yang majemuk ini.

Tinggalkan Balasan