Membumikan Trilogi Ukhuwah NU sebagai Benteng Intoleransi

Ketika poin kedua yang dijalankan, maka Indonesia akan menjadi lumbung toleransi yang kokoh, mengakar sesuai dengan kebudayaan, realitas sosial, dan sejarah bangsa. Di sinilah ingatan saya langsung tertuju kepada konsep Trilogi Ukhuwah NU, yang pada mulanya dikenalkan oleh KH Ahmad Shiddiq (1926-1991). Dalam konsep trilogi tersebut, semata-mata untuk menyatukan di antara persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan dalam ikatan kebangsaan, dan persauadaraan dalam ruang lingkup kebangsaan.

Pertama, Ukhuwah Islamiyah. Persaudaraan ini meliputi berbagi negara yang di dalamnya hidup orang Muslim. Dalam artian bahwa selama orang tersebut Muslim meskipun berada di benua Afrika, Amerika, atau Eropa mereka dianggap sebagai saudara. Kedua, Ukhuwah Wathaniyah. Artinya persaudaraan sesama satu bangsa. Rasa saudara yang dibangun karena adanya kesamaan wilayah atau satu negara. Meskipun, seperti di Indonesia banyak identitas keagamaan, budaya, bahasa, dan suku. Tapi, masih wajib menjalankan hidup berdampingan, karena sama-sama lahir dan tumbuh dari tanah Indonesia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketiga, Ukhuwwah Basyariyah. Artinya persaudaraan sesama manusia. Sebagai hamba yang diciptakan oleh Tuhan, dengan latar belakang berbeda. Maka, sudah sepatutnya dalam berinteraksi antar sesama tidak memandang agama, budaya, dan sosial. Karena, pada dasarnya perbedaan merupakan kehendak Tuhan untuk mengajari hidup berdampingan. Seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad tentang agama yang lebih mengedepankan nilai perdamaian dan toleransi.

Dari sinilah, konsep trilogi ukhuwah yang ditawarkan KH Ahmad Siddiq perlu kiranya terus dipupuk dan dijadikan sebagai nilai yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena tiga persaudaraan yang merangkul perbedaan bermacam-macam identitas itu akan melebur dalam satu ruang bernama kedamaian, persatuan, dan kesatuan masyarakat Indonesia. Maka, intoleransi yang pada mulanya menggerogoti nilai-nilai kebangsaan menjadi lunak, kemudian tercipta sebuah bangsa dengan perdamaian dan keguyuban di tengah-tengah keberagaman identitas.

Tinggalkan Balasan