Memoar Hutan Nirwana

Tiga bulan berlalu, tunas-tunas mulai tumbuh. Di kaki bukit sedang menggelar acara. Pejabat-pejabat dari kabupaten sedang mengadakan upacara pemberian penghargaan kepada penyelamat lingkungan. Riuh warga desa turut memeriahkan acara yang sekaligus diisi dengan pagelaran kuda lumping. Orang yang diberi penghargaan tersebut adalah Insinyur Marwoto, pimpinan perusahaan penghasil kayu plywood dan decking, yang kerjanya menebangi pohon di hutan-hutan.

Sandiwara apalagi ini? Gemerisik rumput mengaduh. Ia tahu, suara risikan rumput yang terinjak tak akan pernah sampai pada ruang-ruang kedap suara. Kalau pun ucapannya benar, hanya akan terdengar tidak lebih sebagai ratap belas kasihan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kapankah manusia sadar akan tingkah pongahnya? Sedikit peka dan menafsir keadaan di sekitarnya? Apakah menunggu kisah mengakhir dan menjelma menjadi legenda? Perihal hijau yang mengelam. Perihal kelam yang mencekam. Pedih, sesak, segala ternistakan. Kini, hilanglah sudah syair-syair merdu simfoni alam, berupa paduan suara fauna yang saling bersahutan di malam hari.

Sedang laki-laki yang menebar benih tempo lalu, hanya bisa mengulas senyum. Laki-laki itu tak butuh trofi. Ia tak butuh namanya tersemat sebagai penerima penghargaan penyelamat lingkungan. Sebab, rimbunnya bukit dan harmoni berupa cericit burung di pagi hari, lebih ia rindukan daripada seonggok piala. Senyumnya masih tersungging tipis. Kabar baiknya, bumi akan segera pulih. Namun, kabar buruknya, butuh ratusan tahun untuk itu.

Agustus 2021.

ilustrasi: paperbola.

Tinggalkan Balasan