Mereka merasa tahu segalanya. Padahal, selalu menutup mata di kala musibah datang. Mereka akan mengelola alam dengan bijak. Lagi-lagi itu hanya katanya, Nirwana, katanya. Lalu nyatanya?
Nirwana, berjalanlah ke lembah di ujung sana. Bisakah kau temui kungkang atau gerombolan bekantan? Bawalah ke hadapanku, Nirwana. Atau kau hanya akan menemukannya sepuluh tahun mendatang di museum kota.

Tuan … puan … semua gila cuan. Mengambil celah nikmat, tapi lupa dengan amanat. Manusia-manusia itu pemuja dunia, Nirwana. Datanglah pagi hari. Maka kau hanya akan mendengar suara gergaji mesin parau bak orkestra yang tak enak didengar. Lalu, sorenya kau akan mendapati pohon meranti yang batangnya sebesar lingkaran tangan dua orang dewasa sudah lenyap tinggal serpihannya.
Masih betah, Nirwana? Baiklah, akan kuselesaikan.
Di seberang sana, laki-laki setengah baya sedang berjalan. Kulitnya lusuh nan dekil. Langkahnya gontai dan pelan. Tiada menghias senyuman di wajahnya. Ada apa gerangan? Tangan kanannya memegang cangkul kecil dan tangan kirinya menenteng kantung plastik hitam. Sorot matanya sayu melihat sekeliling. Sepertinya dia orang baru di sini. Sebab, biasanya manusia datang dengan membawa kapak atau pun gergaji mesin. Insinyur Marwoto namanya. Orang yang kerap mendatangi bukit, lalu memerintahkan anak buahnya untuk menggoroh pohon dengan bengis.
Namun, laki-laki yang baru saja datang, sepertinya bukan anak buah Insinyur Marwoto. Laki-laki itu tidak menyalakan gergaji mesin. Tetapi, ia membersihkan alang-alang, lalu menugal tanah dengan cangkul kecilnya. Ia membuat lubang di beberapa tempat. Apa kau pikir dia sedang membuat lubang bor untuk mengeruk perut bumi, Nirwana? Oh, tentu bukan. Laki-laki itu hanya melubangi tanah sekian sentimeter. Lantas ia mengeluarkan isi dalam keresek-nya. Semacam biji kecil seukuran ujung jari orang dewasa. Ia memasukkan satu per satu ke dalam lubang, lalu menutupinya dengan tanah kembali. Laki-laki itu terus melakukan hal yang sama sampai lubang-lubang yang ia buat terisi oleh biji-bijian.
Esoknya, laki-laki itu datang kembali masih dengan tujuan yang sama: menebar biji ke dalam tanah. Separo bukit ia sebari benih. Manakala hujan kembali datang, tunas-tunas baru akan menghijaukan bukit. Setidaknya ini lebih baik, daripada membiarkan seonggok bukit yang rapuh ditelanjangi.
