NU dan Islam Nusantara

Islam Nusantara bukanlah sebuah aliran baru atau ajaran baru, akan tetapi sebuah metode memahami agama dalam interaksinya dengan kebudayaan Nusantara. Konsep Islam Nusantara merupakan ajaran Aswaja yang “dalam bidang akidah mengikuti Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, dalam fikih mengikuti mazab empat, dan dalam tasawuf mengikuti Al-Ghazali dan AlJunaid Al-Baghdadi.”

Paham ini dibawa oleh para penyebar agama Islam di Nusantara, terutama Wali Songo, yang kemudian terus dikembangkan oleh ulama-ulama pondok pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) hingga mewujud dalam bentuknya saat ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Para pembawa Islam yang masuk ke bumi Nusantara ini, terutama Wali Songo, merupakan para ulama sufi sebagai pengamal ajaran tasawuf. Ini yang kemudian terus dikembangkan oleh ulama-ulama pesantren dan NU, yang pada akhirnya menjadi cikal bakal dari lahirnya konsep Islam Nusantara. Jadi tidaklah berlebihani bila penulis berpandangan bahwa sebuah keniscayaan kalau Islam Nusantara terbangun dari ajaran tasawuf sebagai fondasinya.

NU dan Islam Nusantara

Wali Songo dengan ajaran Aswaja yang dibawanya berhasil mendialogkan ajaran Islam yang berasal dari Arab dengan tradisi masyarakat Nusantara. Jelasnya, tidak mengubah tradisi masyarakat yang sudah ada dan berlangsung, tetapi mewarnai sehingga melahirkan tradisi baru keislaman masyarakat Nusantara.

Maka tak heran jika Clifford Gertz menyebut Wali Songo itu bukan sekadar dai yang menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga sebagai cultural broker, makelar kebudayaan. Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari kemudian merumuskan Aswaja sebagai: “dalam bidang akidah mengikuti Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, dalam fikih mengikuti mazhab empat, dan dalam tasawuf mengikuti Al-Ghazali dan Al-Junaid AlBaghdadi.”

Pada masa itu, munculnya gerakan puritan Wahabi pada awal abad ke-18 dengan slogan kembali kepada Al-Quran dan sunnah meniscayakan penolakan terhadap pengikut-pengikut mazab empat yang mayoritas di dunia Islam. Gerakan ini menyebar ke seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia. Maka, Hadratussyeikh menegaskan kembali tentang pengertian Aswaja, untuk membentengi umat Islam Nusantara dari pengaruh gerakan Wahabi.

Pada awalnya di Indonesia hanya sebagai gerakan agama, namun perlahan gerakan Wahabi dengan ideologi puritannya memasuki wilayah politik Indonesia. Muncullah gerakan-gerakan yang ingin mengganti Pancasila (yang juga dirumuskan oleh para ulama) sebagai ideologi negara dengan negara Islam. Pada pihak yang berlawanan, kelompok nasionalis berusaha mewujudkan negara sekuler. Selain itu, ada lagi pihak ketiga, yaitu PKI yang ingin mengubah bentuk negara dengan ideologi komunis, namun bersembunyi di balik figur Bung Karno. Bangsa yang masih muda ini di ambang perpecahan dan perang saudara karena pertentangan ideologi politik yang kian memanas.

Tinggalkan Balasan