Dengan tangan kiri mengapit sebatang kretek
Lelaki berkepala sunyi itu menuliskan memoir:
Kepadamu
manis-getir yang tak jemu kurindukan
Berbicaralah dengan bahasa fetus
sebelum ia dilontarkan dari gua garba
Merangkaklah menuju titik fitrah
serupa mata angin yang ngembara
Tangis-tawa hanyalah jeda
nyanyian, dekap erat
jalan tualang

Kepadamu
lega-lila ringkih di kolong meja
Sebab rembulan telah kehilangan cerlang
ketika lolong srigala disapu gerhana
Langit-langit tinggal gemuruh
ketika tak tersisa lagi rintik-ritmis
mendung, pekat bagai kerudung-kabung titi masa
menghantui bayang-bayang dengan gulita
