Menakar Langkah Kelompok Islamis di Pemilu 2024

Bakal calon presiden (Bacapres) yang akan melenggang di arena Pemilu 2024, hingga tulisan ini dibuat, ada tiga figur terkuat yaitu, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto. Jika hingga menit akhir tak ada perubahan, artinya tiga figur itu yang mendaftar kemudian ditetapkan menjadi capres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Itu artinya, kita bisa meramal bahwa tendensi kelompok Islamis dimungkinkan jatuh di antara dua sosok; Prabowo Subianto atau Anies Baswedan.

Jika membelot, mendukung Ganjar. Saya rasa cukup sulit terealisasi—untuk menghindari kata mustahil. Ganjar adalah bagian dari PDI Perjuangan. Kelompok Islamis sangat membenci rezim sekarang, yang notabane dikuasai PDI Perjuangan, karena kerap dianggap melakukan kriminalisasi terhadap ulama, tunduk kepada oligarki, hingga mendukung penista agama. Berkaca dari hajat politik terdahulu, sebagaimana dijelaskan di atas, hanya sosok Prabowo dan Anies yang mendapat dukungan kelompok Islamis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, jika ditarik dalam konteks perpolitikan saat ini, ramalan di atas nampaknya menemui jalan terjal dan bisa saja meleset. Kelompok Islamis telah kecewa dan menyebut Prabowo sebagai penghianat tatkala keputusannya bersedia bergabung menjadi Menteri di kabinet Indonesia Maju. Oleh sebab itu, dukungan mengalir terhadapnya sepertinya kian menipis.

Di sini mungkin ada yang menganggap bahwa gerakan kelompok Islamis dipastikan hinggap di pangkuan Anies. Apakah faktanya semulus itu? Senyatanya tidak. Kini, dampak dari deklarasi memilih Cak Imin (PKB) sebagai bacawapresnya juga menimbulkan kekecewaan kelompok Islamis, sebagaimana diungkapkan Novel Bamukmin (Wasekjen PA 212) kepada portal berita online, Tribunnews. Disamping itu, PKS juga sedang menarik diri dukungannya setelah Anies memilih Cak Imin.

Pertanyaan yang kemudian muncul, kemanakah kelompok Islamis berlabuh? Apakah bakal absen di hajatan Pemilu 2024? Hemat saya, tidak. Kelompok Islamis bukan entitas yang tidak pandai bermanuver. Alasan terkuat kelompok Islamis tidak bakal absen karena tahun 2024 dibarengi dengan peringatan 1 Abad runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani. Yang mana, klaim mereka, sesuai hadis Nabi Saw, akan tumbuh/bangkit seorang pembaharu (mujaddid). Maka dari itu, kelompok Islamis pastinya bergelora dalam menyongsong pemilu 2024 sebagai bentuk momentum peralihan kekuasaan. Ditambah lagi pemilu ini tidak ada petahana, yang berarti potensinya fifty-fifty.

One Reply to “Menakar Langkah Kelompok Islamis di Pemilu 2024”

Tinggalkan Balasan