Krisis hari ini tidak identik dengan krisis masa Idham Chalid. Tetapi keduanya berbagi akar yang serupa: kegelisahan terhadap jarak antara pengurus pusat dan nalar pesantren yang membentuk NU sejak awal.
Ketua PBNU tidak pernah hanya menjalankan organisasi. Ia mengoperasikan memori kolektif. Ada batas-batas tak terlihat yang tidak bisa dilewati tanpa menimbulkan reaksi. NU punya radar sendiri untuk membaca kapan kapal mulai bergerak tidak seimbang. Dan ketika radar itu berbunyi, suara kiai yang sebelumnya diam mulai muncul ke permukaan.

Apakah Gus Yahya akan bernasib seperti Idham Chalid atau justru mampu menata ulang relasi kuasa di PBNU masih terlalu dini untuk ditebak. Tetapi satu hal jelas: tuntutan mundur yang kini mengemuka bukan sekadar keributan politik. Ia adalah sinyal keras bahwa sebagian warga NU merasa jarum kompas kepemimpinan mulai bergerak terlalu jauh dari arah kultural yang mereka pahami.
Jika PBNU mampu menjadikan gejolak ini sebagai ruang muhasabah, NU akan pulih dengan otot moral yang lebih kuat. Tetapi jika badai ini dianggap sebagai sekadar “penentangan politik”, luka lama akan kembali terbuka dan NU harus mengulang episode sejarah yang sama.
