Mencermati Propaganda Islam Radikalis

Pada akhirnya, para pengasong khilafah akan memberikan dua pilihan kepada masyarakat yang menjadi target dakwahnya, “Lebih baik pilih mana antara Islam dengan Indonesia?” Jelas tentu masyarakat awam akan memilih Islam. Sebab, dua hal itu jauh beda, Islam lebih bernilai sakral. Jika mereka sudah yakin untuk lebih mengutamakan Islam ketimbang Indonesia, tugas selanjutnya hanya menawarkan khilafah.

Simpatisan HTI akan melontarkan bahwa khilafah adalah model pemerintahan yang diwajibkan oleh agama Islam. Pun, sebaliknya, jika umat Islam tidak mau mendirikan khilafah, maka diklaim akan mendapat dosa, bahkan status keislamannya pun dianggap tidak sah. Lebih jauh, mereka lalu akan membandingkan antara Al-Quran dengan UUD 45, para presiden Indonesia dengan kepemimpinan Nabi Muhammad, dan semacamnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di level ini, bagi orang yang tidak jeli, mesti langsung termakan propagandanya. Oleh sebab itu, nyaringnya suara “bubarkan NKRI, dirikan Khilafah” atau bahkan serangkaian aksi terorisme yang dilakukan oleh sekte Islam garis keras itu tanpa adanya rasa takut dalam melakukan perbuatan tersebut, sebab mereka sudah termakan doktrin yang akut. Mereka percaya bahwa kelompoknya paling benar dan bakal mendapat garansi surga dari Tuhan jika berjuang mendirikan khilafah.

Dakuan bahwa “Tuhan membela mereka” inilah yang membuat para penjaja khilafah semakin buta dari realitas yang ada, bersifat tertutup, dan semena-mena terhadap orang lain.

Dari pola pikir yang diamini oleh kelompok HTI ini, sejatinya mereka kurang jeli dalam melihat, menelaah, dan mengkaji ajaran Islam. Hal simpel saja, jika memang khilafah adalah kewajiban dalam agama Islam, coba sebutkan satu ayat saja yang di dalamnya ada kata ‘khilafah’. Jelas tidak ada. Di Al-Quran hanya ada kata “khalifah fil ‘ard” yang secara makna menunjukkan bahwa manusia menjadi wakil Tuhan dalam merawat dan memakmurkan bumi.

Tinggalkan Balasan