Pekan lalu, di sudut-sudut kampung, di teras-teras masjid, atau bahkan di ruang-ruang keluarga terjadi ketegangan-ketegangan soal bagaimana orang-orang harus beribadah.
Terekam, misalnya, seorang ibu muda bersitegang dengan ayahnya. Sang ayah yang sudah uzur ini memaksa hendak salat Jumat di masjid. “Salat Dzuhur di rumah saja, Ayah,” demikian si ibu muda ini menghalang-halangi langkah ayahnya.

“Tidak! Aku harus ke masjid, Jumatan. Ini perintah Allah!”
“Pemerintah sudah mengeluarkan imbauan. Para ulama sudah mengeluarkan fatwa. Hukum mana lagi yang harus diikuti? Nanti kalau berkumpul dengan banyak orang, Ayah bisa tertular virus Corona.”
“Ah”! si Ayah menepis tangan putrinya. “Ingat ya, aku hanya takut kepada Allah. Tertular atau tidak, hidup atau mati, itu takdir Allah! Aku tidak takut!”
Si ibu muda ini bergerak cepat, mengadang di pintu.
“Lagian, nanti apa kata orang-orang kalau aku tidak ke masjid? Kan, aku ini tokoh agama!”
