Sebuah pemandangan yang lucu. Entah di mata Tuhan….
***

Hari-hari ini, di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19 yang mengganas, saat seluruh komponen bangsa berjibaku memerangi penyebarannya, begitu banyak orang merasa diri gagah dengan tingkat keimanan yang membuncah.
“Kami tidak takut pada Corona! Kami hanya takut kepada Allah! Mati atau hidup itu takdir Allah! Maka, jangan halang-halangi kami untuk beribadah!”
Begitulah kira-kira seruan mereka. Seakan, pandemi Corona ini telah berubah menjadi medan peperangan. Seakan-akan, mereka yang tidak takut terinfeksi Corona berada di pihak “yang hanya takut kepada Allah”, kelompok orang-orang beriman; sedangkan, yang takut tertular virus Corona adalah sebaliknya.
Tapi saya justru terlontar ke masa lalu, ketika berasyik-masyuk dengan teologi Islam saat masih kuliah atau dengan ilmu kalam saat masih mondok. Dalam teologi Islam atau ilmu kalam, minimal ada empat aliran pemikiran yang sangat popular untuk dijadikan bahan perdebatan, mulai dari mu’tazilah, qodariyah, jabariyah, hingga asy’ariyah.
Saat diskusi, kami sering bermain peran (roleplay). Ada teman yang mengutamakan rasio atau akal, maka ia disebut dari kelompok mu’tazilah; terhadap teman yang berbasis adekuasa manusia dan meniadakan peran Tuhan, kami sebut sebagai kelompok qodariyah; ada teman yang berprinsip bahwa segala sesuatunya telah ditakdirkan oleh Tuhan dan meniadakan ikhtiar manusia, maka masuk kelompok jabariyah; adapun, kelompok asy’ariyah adalah sebutan bagi yang berprinsip bahwa ikhtiar manusia tetap diperlukan meskipun takdir Allah juga akan menentukan.
