Semaan Puisi bukan sekadar forum pembacaan puisi. Sejak didirikan pada Oktober 2022, forum ini secara rutin menghadirkan kegiatan mendaras dan menelaah puisi-puisi para penyair Indonesia dan dunia. Puisi dibaca secara perlahan, didengarkan, dibicarakan, dan ditempatkan dalam konteks kehidupan yang melahirkannya.
Semaan dalam pengertian ini bukan hanya membaca teks, melainkan sebuah ikhtiar untuk mendengarkan puisi secara lebih dekat. Setiap kata, metafora, pengalaman, dan kegelisahan yang terdapat dalam puisi menjadi pintu masuk untuk memahami manusia dan kebudayaan.

Selama perjalanannya, Semaan Puisi telah menjadi ruang perjumpaan antara penyair, akademisi, budayawan, seniman, santri, mahasiswa, dan para pencinta sastra. Puisi-puisi Indonesia dan dunia didaras bersama untuk menemukan kemungkinan makna yang barangkali luput ketika puisi hanya dibaca sendirian.
Karena itu, edisi ke-136 yang secara khusus membahas Taufiq Ismail juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali sebuah perjalanan panjang seorang penyair melalui puisi-puisinya: bagaimana ia menulis, apa yang diperjuangkannya, bagaimana karya-karyanya diterima, serta sejauh mana karya tersebut memiliki arti bagi perjalanan kesusastraan Indonesia.
