Semaan Puisi memasuki edisi ke-136 dengan perhelatan khusus mengangkat sosok dan perjalanan kepenyairan Taufiq Ismail. Mengusung tema “Taufiq Ismail: Perjuangan, Karya, dan Penghargaan”, acara ini akan digelar pada Kamis, 13 Agustus 2026, pukul 13.00–17.00 WIB, di Perpustakaan Jakarta, PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Berbeda dari penyelenggaraan rutinnya, yang biasanya berlangsung setiap Kamis malam di Al-Zastrouw Library x adakopi satulagi, Semaan Puisi edisi khusus ini menjadi ruang untuk membaca, mendaras, sekaligus mendiskusikan karya dan perjalanan panjang Taufiq Ismail dalam kesusastraan Indonesia.

Taufiq Ismail merupakan salah satu penyair penting Indonesia yang perjalanan kepenyairannya telah berlangsung selama lebih dari enam dekade. Puisinya tidak hanya merekam pengalaman personal, tetapi juga berbagai pergulatan sosial, kebangsaan, keagamaan, dan sejarah Indonesia.
Karena itu, pembacaan terhadap karya Taufiq Ismail dalam Semaan Puisi edisi ini tidak berhenti pada persoalan estetika puisi, tetapi juga menempatkannya dalam konteks perjuangan kebudayaan dan perjalanan sejarah bangsa.
Momentum tersebut menjadi semakin penting karena pada tahun ini Taufiq Ismail mendapat dukungan pencalonan sebagai kandidat peraih Nobel Sastra, antara lain dari Minang Diaspora dan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI). Dukungan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar memperkenalkan dan mengangkat kembali karya serta kontribusi Taufiq Ismail dalam percaturan sastra Indonesia dan dunia.
Dalam acara ini, sejumlah pembicara akan mengupas berbagai sisi perjalanan Taufiq Ismail, yakni Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, S.Ag., M.Si., Dr. Ganjar Harimansyah, Angin Kamajaya. Semaan Budaya akan dimoderatori oleh Mahwi Air Tawar.
Sementara itu, pembacaan puisi akan melibatkan sejumlah penyair, budayawan, dan pembaca puisi, di antaranya Taufiq Ismail, Jose Rizal Manua, Ngatawi Al-Zastrouw, Mahwi Air Tawar, Fikar W. Eda, D. Kemalawati, Fatin Hamama, Devie Matahari, Helvy Tiana Rosa, Anzar Mustikowati, Octavianus Masheka, Imam Maarif, Beni Satria, Gilang Eka Sulaeman, dan Ario Srengenge.
Acara ini juga akan dimeriahkan dengan penampilan khusus Hadrah Banjari Assalam.
Dari Mendaras Puisi hingga Membaca Kebudayaan
Semaan Puisi bukan sekadar forum pembacaan puisi. Sejak didirikan pada Oktober 2022, forum ini secara rutin menghadirkan kegiatan mendaras dan menelaah puisi-puisi para penyair Indonesia dan dunia. Puisi dibaca secara perlahan, didengarkan, dibicarakan, dan ditempatkan dalam konteks kehidupan yang melahirkannya.
Semaan dalam pengertian ini bukan hanya membaca teks, melainkan sebuah ikhtiar untuk mendengarkan puisi secara lebih dekat. Setiap kata, metafora, pengalaman, dan kegelisahan yang terdapat dalam puisi menjadi pintu masuk untuk memahami manusia dan kebudayaan.
Selama perjalanannya, Semaan Puisi telah menjadi ruang perjumpaan antara penyair, akademisi, budayawan, seniman, santri, mahasiswa, dan para pencinta sastra. Puisi-puisi Indonesia dan dunia didaras bersama untuk menemukan kemungkinan makna yang barangkali luput ketika puisi hanya dibaca sendirian.
Karena itu, edisi ke-136 yang secara khusus membahas Taufiq Ismail juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali sebuah perjalanan panjang seorang penyair melalui puisi-puisinya: bagaimana ia menulis, apa yang diperjuangkannya, bagaimana karya-karyanya diterima, serta sejauh mana karya tersebut memiliki arti bagi perjalanan kesusastraan Indonesia.
