Kata pahlawan kini terasa akrab, tapi kehilangan bobotnya. Setiap 10 November, kita seolah dipaksa menatap masa lalu tanpa benar-benar memahami maknanya.
Upacara digelar, doa dibacakan, dan pidato diputar berulang, seakan-akan kepahlawanan hanya warisan yang patut dikenang, bukan nilai yang harus diperjuangkan ulang. Padahal, di zaman yang serba cepat dan rasional ini, makna pahlawan justru perlu dibaca ulang: apakah kepahlawanan masih relevan di tengah masyarakat yang menuhankan efisiensi dan manfaat?

Sebagai santri, saya percaya bahwa kepahlawanan dalam Islam tak pernah semata soal perang dan senjata. Jihad bukan hanya pertempuran fisik, melainkan perjuangan moral, intelektual, dan spiritual.
