Perjuangan dakwah KH Bashir Abdullah Sajjad benar-benar luar biasa. Beliau mengesampingkan kondisi fisik diri sendiri demi memberikan pengajaran kepada santri-santrinya. Bahkan saat kondisi fisik yang cukup memprihatinkan pun, Beliau tetap memaksakan diri untuk memberikan pelayanan terbaik kepada santri. Itu semua Beliau lakukan sebagai bentuk komitmen dalam melaksanakan dakwah, amar makruf nahi munkar.
Baru setelah ada vonis dari dokter bahwa KH Bashir harus istirahat dan tidak boleh banyak duduk, Beliau menghentikan sementara pengajian tersebut. Masih bagitu membekas dalam ingatan saya, bahwa pada saat itu Beliau mengajar Alfiyah ibnu Malik, Kitab Maqshud, dan Fathul Wahab. Alfiyah dan Maqshud merupakan ilmu alat, ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah bahasa Arab. Sedangkan, kitab Fathul Wahab merupakan kitab fikih yang menjadi sarana praktik setelah kami belajar ilmu alat. Dan memang demikianlah adanya. Setelah kami belajar ilmu alat (nahu dan saraf) kemudian dilanjutkan dengan praktik membaca kitab Fathul Wahab.

Ada suatu kejadian menarik ketika saya praktik membaca dan memberi makna kitab Fathul Wahab ini. Malam sebelum esok hari, saat saya harus mempraktikkan kitab Fathul Wahab, saya mempelajari tata kaidah bacaan kitab tersebut. Dengan penuh semangat, mencari makna di kamus atau bertanya kepada santri senior yang sudah lebih paham tentang ilmu baca kitab kuning, maka esoknya saya harus membaca kitab yang telah saya pelajari di depan KH Bashir. Seberapa banyak saya pelajari, tiga baris atau empat baris dan selanjutnya, maka sebanyak itu pula saya diberhentikan membaca oleh Beliau. Seakan ada yang memberitahukan bahwa saya hanya mempersiapkan sampai di batasan tersebut. Dan itu berulang dan berganti hari hingga beberapa kali waktunya. Sebuah keanehan dari seseorang yang sangat dekat kepada Allah.
Komitmen dakwah KH Bashir lainnya terjadi ketika saya sudah menjadi alumni. Pada suatu ketika adik saya (perempuan) dilamar oleh dua orang laki-laki yang dipandang pelik untuk memilih satu di antara keduanya. Memilih dua-duanya tentu tidak mungkin kan? Akhirnya, saya memutuskan untuk berkonsultasi kepada KH Bashir AS.
Saya pun berangkat ke Pesantren Annuqayah untuk bertemu Beliau. Sesampainya di sana, saya sampaikan maksud dan tujuan. Kemudian Beliau berkata, “Ya salat istikharah saja. Dan ada lagi doa bacaan yang harus kamu baca. Tapi tidak sekarang, sebab aku ada kepentingan lain. Biar aku kirimkan ke temanmu ya!”
