Menelisik Kesenjangan Paham Moderat di Sekolah

“Gurupun menghadapi kendala dalam upaya pembinaan akhlak anak. Sering terlihat beberapa guru yang merasa kecewa dengan perilaku-perilaku siswa yang tidak sesuai dengan ajaran Islam moderat, seperti saat belajar berlangsung ada siswa bermain HP, ribut, tidak mendengar apa yang dijelaskan oleh guru dan tidak sopan terhadap guru-guru dan sering membuat onar di sekolah seperti bolos sekolah, menganggu teman, tidak ikut sholat berjamaah” (Guru Agama).

“Penanaman nilai Islam moderat adalah pembelajaran yang mengedepankan hal-hal yang bernuansa demokratis, yaitu suasana pembelajaran yang saling menghargai adanya kebebasan berpendapat dan mengungkapkan gagasan, serta keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktivitas.” (Kepala Sekolah).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Penulis melihat hal ini bukanlah karena perbedaan ideologi. Sebab, sekolah yang kami datangi adalah sekolah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) dan berlokasi di lingkungan NU. Namun, penulis melihat bahwa hal ini lebih karena disebabkan adanya kesenjangan paham kemoderatan antar-sekolah atau bahkan institusi pendidikan.

II

Mengapa? Karena, pertama, walaupun NU memiliki gema kuat tentang Islam moderat di sana sini, namun formulasi Islam moderat yang rigit belum tentu terdistribusi secara merata di seluruh sekolah yang berafiliasi dengan NU. Di lain pihak, Kementerian Agama juga memang telah menerbitkan modul atau bahkan rumusan kurikulum soal pendidikan Islam moderat, namun lagi-lagi, hal ini juga belum tentu merata di tiap sekolah.

Kalaupun, missal, suatu sekolah telah menerima modul ataupun rumusan kurikulum itu, maka masalah berikutnya adalah soal komprehensi pemahaman tenaga pendidik tentang Islam moderat. Dengan kata lain, masalah ketidak-merataan tidak hanya tentang distribusi, tapi juga tentang ketidak-merataan komprehensi pemahaman.

Kedua, senjangnya jarak antara teori Islam moderat yang kawan penulis kutip di skripsinya dan jawaban petinggi sekolah yang ia wawancarai, menyiratkan bahwa sepertinya peran peguruan tinggi sebagai ujung tombak ilmu pengetahuan dan penelitian belum banyak tersinkronisasi dengan sekolah, khususnya menyangkut soal distribusi hasil ataupun rekomendasi penelitian.

Tinggalkan Balasan