Substansi Pembahasan
Isi materi pembahasan yang termaktub di dalam Hidāyah al-Mustafīd fī ‘Ilm at-Tajwīd seluruhnya ditulis berdasarkan mazhab qiraat ‘Āṣim riwayat Ḥafṣ. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Muḥammad al-Maḥmūd al-Najjār sendiri dalam mukadimah kitabnya, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bunyinya seperti berikut:

“Keberadaan kitab-kitab tajwid sulit didapatkan. (Andaikan ada, kitab tajwid yang beredar) rata-rata sulit dipahami oleh anak-anak. Sebab, semangat mereka (untuk belajar) masih sangat rendah. Memang tidaklah aneh, sebab orang yang tidak jelas penglihatannya bisa terpeleset karena adanya debu yang berkeliaran ke udara, dan anak yang masih kecil bisa tersedak karena air susu yang memancar terlalu deras. Oleh karena itu, terlintas dalam pikiranku untuk menyusun kitab kecil dan sederhana tentang ilmu tajwid berdasarkan riwayat Ḥafṣ dengan merujuk pada beberapa kitab ulama salaf dan khalaf. Kitab ini saya susun dengan model tanya jawab agar mudah dihafal dan dipahami.”
Bukti konkret nuansa qiraat ‘Āṣim riwayat Ḥafṣ tharīq Syāṭibiyyah tampak saat Muḥammad al-Maḥmūd al-Najjār mengulas kaidah bacaan saktah (diam sejenak tanpa napas kemudian melanjutkan redaksi ayat sesudahnya). Tentu ini menjadi mayoritas bacaan Al-Qur’an umat Islam di Indonesia. Berikut contoh redaksi yang termaktub. Al-Najjār mengemukakan bahwa bacaan saktah ada di empat tempat, yakni: Q.S. al-Kahf/18:1-2: wa lam yaj’al lahu ‘iwajan-qayyiman; Q.S. Yāsin/38:52: man ba’atsanā min marqadinā-hādzā; Q.S. al-Qiyāmah: wa qīla man-rāq/75:27; Q.S. al-Muṭaffifīn/83:14: kallā bal-rān.
Kitab Hidāyah al-Mustafīd fī ‘Ilm at-Tajwīd pertama kali saya pelajari saat masih duduk di bangku madrasah diniyyah Nahdlotul Mubtadi’in, Bojonegoro. Sepanjang proses pembelajaran, saya merasakan bahwa kitab ini mudah dipahami. Apalagi yang mengampu pada waktu itu adalah kiai yang sangat berkompeten, yakni Kiai Muhammad Fahim Asy’ari, alumnus PP Ma’hadul Ulum asy-Syar’iyyah, Sarang, Rembang. Hal ini semakin menjadikan mudah dalam proses memahami materi-materi yang termaktub dan yang disampaikan secara lisan.
Kemudahan semakin bertambah-tambah lantaran kitab yang dikarang oleh Abu Rimah tersebut diformat dengan model tanya jawab. Membaca kitab ini seakan-akan saya seperti membaca hasil keputusan bahtsul masail. Masalah-masalah seputar tata cara membaca Al-Qur’an sebagian besar dapat ditemukan jawabannya di dalam kitab Hidāyah al-Mustafīd. Oleh karena itu, kitab ini bernilai sangat membantu mempermudah para pelajar pemula yang ingin bisa dan memahami kaidah-kaidah membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
