Sejauh ini, dunia pesantren seakan mengepung dan mengekang para santri untuk belajar agama tanpa ada dorongan untuk belajar pendidikan umum. Padahal, kita tahu bahwa kebangkitan umat Islam tidak bertumpu pada pengembangan ilmu agama, namun juga disertai denga kemajuan ilmu pengetahuan umum yang merupakan pra-syarat dalam menciptakan peradaban manusia.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan tegnologi, disadari atau tidak, selalu memberikan dampak positif bagi proses kemandirian dan sikap budaya lokal kepesantrenan. Bahkan, tidak jarang kemauan tersebut kian menjadikan generasi santri kita mulai kehilangan semangat dalam mempertahankan nilai-nilai budaya pesantren yang sudah tertanam sejak dahulu kala. Lunturnya semangat ini boleh jadi disebabkan oleh romantisme budaya yang semakin berkembang akibat tergerus oleh implikasi globalisasi yang sarat dengan kebebasan.

Kurikulum dalam pendidikan Islam selalu terkait dengan materi pelajaran yang meniscayaan pemahaman tentang ilmu agama dan kaidah fikih para ulama terdahulu. Apalagi prinsip dalam pendidikan Islam tentang penyusunan kurikulum menghendaki keterkaitan dengan sumber pokok agama. Karakter kurikulum dalam pendidikan Islam tidak bisa lepas dari ilmu agama yang menitikberatkan pada aktivitas peribadatan (258).
Suyoto dalam bukunya menyebutkan bahwa metode pembelajaran dalam kurikulum pesantren sebenarnya berkaitan dengan layanan terbaik yang ingin diberika kepada santri. Belakagan ini, berbagai usaha inovatif yang ditempuh justru mengarah pada pelayanan individual terhadap anak didik. Metode sorogan justru mengutamakan kematangan dan perhatian serta kecakapan seseorang. Tidak heran bila Mastuhu menyebut metode ini individualis meski sebenarnya termasuk metode modern.
Meskipun kebanyakan pesantren telah memasukkan pelajaran pengetahuan umum, hal yang tidak kalah mendesak adalah pengembangan sumber daya manusia. Ialah sebuah pengembangan spesialisasi pesantren dengan disiplin ilmu pegetahuan yang bersifat praktis melalui jalur aplikasi teknologi.
Fenomena pesantren yang mengadopsi pengetahuan umum untuk diajarkan kepada para santri, sembari tetap mempertahankan pengajaran kitab klasik, merupakan upaya untuk meluruskan tujuan pendidikan agama tersebut, yaitu pendidikan ulama yang setia pada paham Islam tradisional. Dalam tradisi pesantren, orientasi kurikulum pesantren tidak sekadar berupaya mencetak santri memiliki intelektual yang tinggi, namun juga mampu mengintegrasikan ilmu, iman, dan ihsan sebagai landasan fundamental dalam memperkuat hakikat pendidikan Islam.
