As-Sunnah, lafaz yang dibaca dengan dhammah pada huruf sin-nya dan diiringi dengan tasydid ini, sebagaimna dikatakana oleh Imam Abu al-Biqa’ dalam kitab Kulliyat, secara etimologi berarti thariqah (tarekat/jalan), sekalipun tidak diridai.
Sedangkan, secara terminologi syara, as-Sunnah adalah thariqah (jalan) yang diridai dalam menempuh agama sebagaimana yang telah ditempuh oleh Rasulullah Saw atau selainnya, yakni mereka yang memiliki otoritas sebagai panutan di dalam masalah agama, seperti para sahabat Ra.

Hal tersebut berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw, yang artinya “Tetaplah kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunah khulafaur rasyidin setelahku ” (hal 5).
السنة بالضم والتشديد كما قال أبو البقاء فى كلياته : لغة الطريقة ولو غير مرضية المسلوكة فى الدين سلكها رسول الله صلى الله عليه وسلم او غيره ممن هو علم فى الدين كالصحابة رضي الله عنهم لقوله صلى الله عليه وسام : عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدى
Sementara itu, definisi bidah secara terminologi (urf) syara, seperti dikatakan oleh Syekh Zaruq di dalam kitab Iddat al-Murid, adalah “Menciptakan perkara baru dalam agama seolah-olah ia merupakan bagian dari urusan agama, padahal sebenarnya bukan, baik dalam tataran wacana, penggambaran, maupun dalam hakikatnya.”
Definisi tersebut didasarkan pada sabda Nabi Saw yang artinya “Barang siapa menciptakan perkara baru di dalam urusanku, padahal bukan merupakan bagian dari padanya, maka hal tersebut tertolak”. Sabdanya lagi “Dan segala bentuk perkara yang baru adalah bid’ah” (hal 6).
