Buku ini juga memotret bagaimana NU kembali ke khittah 1926 pasca-Muktamar di Situbondo pada 1984. Kondisi NU, khususnya di Bojonegoro, juga dijelaskan dalam buku ini. Hal itu dibuktikan dengan terbengkalainya kegiatan-kegiatan yang nonpolitis karena mayoritas pengurus NU Bojonegoro masih berorientasi politis.
Selain itu, PCNU Bojonegoro mulai serius menata kembali kegiatan yang berurusan dengan jamiyah an-Nahdliyah. Keseriusan ini dibuktikan dengan bergabungnya NU Padangan dan NU Bojonegoro menjadi satu kesatuan PCNU Bojonegoro melalui Konferensi Istisna’u (luar biasa) pada 26 Januari 1986.

Sebagai penutup, di bagian akhir pada buku ini dilampirkan beberapa manuskrip Mbah Abdurrohman Klotok. Manuskrip itu berupa kitab yang pernah disalin oleh beliau, seperti Kitab Maulid al-Barzanji dan Fathul Muin, dan kitab yang ditulis oleh beliau sendiri.
Ada pula kop surat yang mengabarkan keberadaan Syekh Abdurrohman Klotok di Baitul Maqdis, baik yang diterima beliau atau yang ditujukan pada beliau. Terdapat lampiran-lampiran yang berisi foto-foto manuskrip kitab-kitab yang ditulis oleh Syekh Abdurrahman Klotok Padangan, yang berjumlah 10 manuskrip. Manuskripnya tersebut memuat berbagai tema, seperti fikih dan hadis. Ada pula kitab yang disalin oleh Syekh Abdurrahman Klotok, kitab syarh Fathurrahman. Dan itu semua ditulis tangan oleh beliau sendiri.
Buku ini menunjukkan betapa kuat akar peradaban Islam serta tradisi para ulama Padangan melalui bukti literatur-literatur yang masih terjaga. Semoga buku ini dapat bermanfaat dan membawa keberkahan bagi umat Islam
Wallahu A’lam
Data Buku:
Judul Buku: Tarikh Padangan: Ensiklopedia dan Historiografi Ulama Padangan Bojonegoro Abad XIV-XX M.
Penerbit: Nuntera
Cetakan: Pertama
Tahun Terbit: Maret 2024
Penulis: Ahmad Wahyu Rizkiawan
