Wajah muslim Indonesia seringkali disebut unik dan kaya akan nilai historis, terutama jika menilik bagaimana Islam masuk dan membentuk pusat-pusat peradaban di berbagai daerah.

Para ulama terdahulu menyebarkan atau mendakwahkan Islam di Nusantara dengan memanfaatkan letak geografis yang strategis serta membangun jaringan keilmuan yang kuat. Salah satu wilayah yang memegang peran mahapenting namun sempat terlupakan adalah Padangan, sebuah daerah di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ia berada di Kabupaten Bojonegoro.

Buku yang berjudul Tarikh Padangan Ensiklopedia dan Historiografi Ulama Padangan Abad XIV-XX M yang ditulis Ahmad Wahyu Rizkiawan ini hadir untuk memotret rekam jejak tersebut. Kehadiran karya ini disambut hangat oleh para tokoh dan pakar.
Dalam Sambutan Pertama, Dr. KH Yogi Prana Izza, Lc MA (Ketua PC ISNU Bojonegoro) menegaskan bahwa karya ini bukan sekadar buku sejarah biasa. Ia merupakan karya ilmiah yang membuka cakrawala baru dan berkontribusi besar dalam menyambungkan mata rantai yang terputus (missing link) perihal para penyebar Islam (wali) di tanah Jawa, sekaligus memperjelas sanad keilmuan ulama Nusantara.
Senada dengan hal itu, Sambutan Kedua datang dari KH Lora Usman Hasan Al Akhyar Bangkalan (Pendiri Nahdlatut Turots) yang mengisahkan pengalamannya saat sowan ke Padangan pada Juni 2022. Lora Usman menyaksikan sendiri tumpukan naskah dari abad ke-18 dan ke-19. Naskah-naskah tersebut membuktikan bahwa kemegahan bangunan pengetahuan di sana bukanlah dongeng semata, melainkan fakta tertulis. Karena itu, istilah Balad an-Nur atau Dar an-Nur (kawasan/rumah cahaya) sangat layak disematkan pada Padangan.
Sementara itu, Dr. A. Ginanjar Sya’ban (Wakil Sekretaris Jenderal PBNU dan Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta) dalam Kata Pengantar-nya menggambarkan Padangan sebagai sebuah wilayah tua, bagian dari Keadipatian Jipang yang menjadi salah satu episentrum peradaban Islam penting di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ia juga menceritakan kunjungannya ke situs-situs bersejarah di sana, termasuk makam ulama kuno seperti Syaikh Sabil (Menak Anggrung) yang hidup pada masa peralihan abad ke-16 dan 17 M.

Dalam Pengantar Penulis, Ahmad Wahyu Rizkiawan mengungkapkan bahwa buku “Tarikh Padangan” ini merupakan edisi revisi dan pengembangan dari risalah tipis yang sebelumnya berjudul “Hikayat Padangan Kota Cahaya dan NU Bojonegoro”, dengan menambahkan banyak bukti literatur serta berbagai gambar pendukung. Penulis menegaskan bahwa Padangan bukan sekadar nama wilayah kecamatan, melainkan sebuah entitas peradaban yang menghubungkan persebaran Islam di wilayah Lasem, Rembang, dan Singgahan Tuban pasca-era Walisongo. Penulis juga menyayangkan bahwa meskipun memiliki nilai historis yang teramat penting sebagai mercusuar keilmuan dan pusat intelektual Islam selama hampir empat abad (dari abad ke-17 hingga ke-20 M), sejarah keulamaan di sini belum banyak ditulis secara serius. Kehadiran buku ini dimaksudkan untuk mengisi kekosongan tersebut.
Selain terkenal sebagai sentra produksi ledre pisang yang menjadi salah satu jajanan khas Bojonegoro, Padangan ternyata juga terkenal dengan pusat peradaban Islam di Bojonegoro. Bagaimana tidak, Nahdlatul Ulama, jamiyah Islam terbesar di Nusantara cabang Bojonegoro dan Cepu ini embrionya ada di Padangan.
Pada bab pertama dijelaskan Padangan sebagai entitas Geografis, yaitu peran wilayah Padangan yang terkenal strategis karena pusat peradaban Padangan ini berada di bantaran Sungai Bengawan Solo. Bahkan di era Hindu-Budha, Padangan sangat berperan aktif sebagai jalur perdagangan dan jalur masuknya kapal-kapal ke daerah kerajaan maupun terlibat dalam dinamika politik Nusantara. Pada bab ini penulis runtutkan sesuai periodisasi kerajaan dari yang tertua yang memiliki peran di Padangan tak lupa pula disertakan prasasti yang mencatat kerajaan dan perannya.
Melalui penelusuran sejarah yang runtut, Medang Kamulan memiliki peran di Padangan, tepatnya di era Dharmawangsa Teguh yang tercatat dalam prasasti Pucangan (1041 M). Prasasti yang ditulis oleh Airlangga tersebut mengisahkan Aji Wurawari dari Lwaram (saat ini masuk desa Ngloram, Cepu) pada 1017 M yang memporak-porandakan Medang Kamulan dan hanya Airlangga saja yang selamat.
Selanjutnya, di era Singosari yang terabadikan dalam prasasti Maribong (Trowulan II) yang dibuat oleh Wisnu Wardhana, Raja Singosari, pada 1264 M, menjelaskan kawasan Maribong yang sebelumnya daerah bawahan Jipang diubah menjadi tanah perdikan. Saat ini Maribong merupakan nama dusun, yaitu Dusun Merbong di Ngraho, Bojonegoro.
Kemudian terdapat pula di era Majapahit yang termaktub pada Prasasti Canggu yang ditulis oleh Hayam Wuruk pada 1358 M, yang mengisahkan bahwa daerah Jipang merupakan pelabuhan gerbang masuk menuju Ibu kota Majapahit dan menjadi tempat berlabuhnya para saudagar. Saat ini daerah tersebut bernama Jipangulu (Bojonegoro) dan Jipang (Cepu).
Di era selanjutnya, masa Islam, Padangan di buku ini dijelaskan sebagai entitas peradaban Islam yang aktif. Seperti di era Kasultanan Demak atau era Walisongo, Giri Kedaton, Kerajaan Pajang, Menak Anggrung (Pasca Wali Songo), Fiddarinur, Perang Diponegoro, Sarekat Islam, hingga Nahdhatul Ulama juga dijelaskan pada bab ini. Memasuki bab ketiga, buku ini menjelaskan biografi mengenai para masyayikh yang berdakwah dan memiliki hubungan nasab maupun genealogi di tanah Padangan. Periodesasinya dijelaskan secara runtut oleh penulis sesuai dengan tahunnya yang berjumlah 25 ulama. Di antaranya, Syekh Jumadil Kubro, Syekh Nursalim Tegiri, Syekh Sabil dan Mbah Hasyim, Syekh Sambu Lasem dan Syekh Abdul Jabbar Jojogan, Syekh Kamaluddin Oro-oro Bogo, Syekh Syahiddin Oro-oro Bogo, Syekh Abdurrohman Klotok, Syekh Syihabuddin Betet Al-Fadangi, Syekh Syamsuddin Betet Kasiman, Syekh Muhammad Syahid Kembangan Gayam, Mbah Abdul Qodir Bringan Gayam, Mbah Abdurrohman Stren Padangan, Mbah Syihabuddin Totokromo, Mbah Munada Rowobayan, Mbah Ahmad Rowobayan, Mbah Asnawi Padangan, Mbah Hasyim Jalakan, Mbah Zainuddin Loceret Mojosari Nganjuk, Mbah Mustajab Gedongsari, Syekh Sulaiman Kurdi, KH Muntaha Padangan, KH Abu Syukur Padangan, KH Usman Cepu, KH Abdul Hadi Rowobayan, dan KH Abdurrohman Rowobayan. Di sini penulis buku ini juga menjelaskan peran para masyayikh itu di Padangan mulai dari karya, biografi, tahun wafat, dan hal-hal penting lainnya.
Selanjutnya, pada bab 4, bab terakhir, menjelaskan lahirnya NU Bojonegoro. Di bab ini lahirnya NU Bojonegoro dijelaskan secara global terlebih dahulu, yaitu mulai dari berdirinya NU yang bermula dari reaksi dan gejala politik Timur Tengah dengan disertai penjelasan peran besar Komite Hijaz di dalamnya. Kesamaan wawasan Nusantara, pandangan, dan ideologi ulama yang sama dan membudaya juga dijelaskan pada bab ini.
Seusai itu barulah dikerucutkan sejarah NU Bojonegoro yang bermula di Padangan. Pada 1938 mulai berkembang di Bojonegoro dan secara resmi berdiri pada 1953 yang dibawa oleh KH Sholeh Hasyim, putra KH Hasyim Jalakan yang menikah dengan putri Kiai Yahya Kauman Bojonegoro. Saat itu Kiai Yahya sendiri merupakan Imam Khotib Bojonegoro.
Gejolak politik pasca berdirinya NU Bojonegoro waktu Pemilu 1955 juga dijelaskan pada bab ini. Kala itu NU Bojonegoro mendapatkan 60.000 suara dan berhasil menempatkan dirinya sebagai urutan ketiga dalam perolehan kursi di tingkat kabupaten, setelah PKI dan Masyumi. Adapun, PNI mendapat urutan keempat.
Buku ini juga memotret bagaimana NU kembali ke khittah 1926 pasca-Muktamar di Situbondo pada 1984. Kondisi NU, khususnya di Bojonegoro, juga dijelaskan dalam buku ini. Hal itu dibuktikan dengan terbengkalainya kegiatan-kegiatan yang nonpolitis karena mayoritas pengurus NU Bojonegoro masih berorientasi politis.
Selain itu, PCNU Bojonegoro mulai serius menata kembali kegiatan yang berurusan dengan jamiyah an-Nahdliyah. Keseriusan ini dibuktikan dengan bergabungnya NU Padangan dan NU Bojonegoro menjadi satu kesatuan PCNU Bojonegoro melalui Konferensi Istisna’u (luar biasa) pada 26 Januari 1986.
Sebagai penutup, di bagian akhir pada buku ini dilampirkan beberapa manuskrip Mbah Abdurrohman Klotok. Manuskrip itu berupa kitab yang pernah disalin oleh beliau, seperti Kitab Maulid al-Barzanji dan Fathul Muin, dan kitab yang ditulis oleh beliau sendiri.
Ada pula kop surat yang mengabarkan keberadaan Syekh Abdurrohman Klotok di Baitul Maqdis, baik yang diterima beliau atau yang ditujukan pada beliau. Terdapat lampiran-lampiran yang berisi foto-foto manuskrip kitab-kitab yang ditulis oleh Syekh Abdurrahman Klotok Padangan, yang berjumlah 10 manuskrip. Manuskripnya tersebut memuat berbagai tema, seperti fikih dan hadis. Ada pula kitab yang disalin oleh Syekh Abdurrahman Klotok, kitab syarh Fathurrahman. Dan itu semua ditulis tangan oleh beliau sendiri.
Buku ini menunjukkan betapa kuat akar peradaban Islam serta tradisi para ulama Padangan melalui bukti literatur-literatur yang masih terjaga. Semoga buku ini dapat bermanfaat dan membawa keberkahan bagi umat Islam
Wallahu A’lam
Data Buku:
Judul Buku: Tarikh Padangan: Ensiklopedia dan Historiografi Ulama Padangan Bojonegoro Abad XIV-XX M.
Penerbit: Nuntera
Cetakan: Pertama
Tahun Terbit: Maret 2024
Penulis: Ahmad Wahyu Rizkiawan
