Menggagas Paradigma Baru Ilmu Islam

Ilmu pengetahuan menjadikan manusia sebagai makhluk beradab dan dengan itu membangun peradaban. Manusia memperoleh ilmu pengetahuan melalui proses dan pengalaman yang panjang, dengan apa yang disebut mencari ilmu atau tholabul ilmi. Melalui pencarian ilmu pengetahuan itu pula Islam mencapai kejayaan dan peradaban tinggi.

Dalam sejarah peradaban Islam, Islam begitu menghargai dan menjunjung tinggi sains dan ilmu pengetahuan, dari mana pun sumbernya. Sebab, salah satu prinsip dalam pencarian ilmu pengetahuan atau tholabul ilmi adalah dengan menghargai para ilmuwan sebelumnya, meskipun mereka berasal dari kebudayaan yang berbeda, seperti para ilmuwan Yunani, Romawi, Persia, India, dan sebagainya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Itulah yang dulu pernah dilakukan para ilmuwan atau sarjana muslim, semisal Ibn Sina yang dikenal sebagai bapak kedokteran modern. Ia mendalami berbagai disiplin keilmuan, seperti filsafat, astronomi, dan kedokteran. Bukunya yang berjudul The Canon of Medicine telah menjadi buku pegangan utama mahasiswa kedokteran di Eropa sampai abad ke-18 atau 700 tahun kemudian.

Selanjutnya ada Al Khwarizmi yang memecahkan persamaan alogartima, linier, kuadrat, dan konsep aljabar. Ia juga berhasil memetakan pergerakan matahari dan bulan. Pendek kata, sejarah Islam dipenuhi para ilmuwan yang sangat hebat, seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Majah, Ibnu Rusd, Ar-Razi, Ibnu Tufail, di mana mereka mengkaji ilmu pengetahuan tidak mengkategorikan dan mempertentangkan istilah ilmu agama dan ilmu umum.

Masa kejayaan Islam terdahulu ini akan memberikan sebuah pemahaman penting dan uswah hasanah dalam penguatan tradisi pencarian ilmu pengetahuan, yang dalam tradisi pesantren disebut ngaji. Dengan penguatan tradisi ngaji ini akan menjadikan Islam lebih maju karena menghargai perbedaan serta terbuka dengan kelompok lain untuk ikut bersama-sama membangun dunia ini dan berkontribusi mengembangkan ilmu untuk menjadikan dunia ini lebih baik.

Konstruk ini melandasi keluasan ilmu pengetahuan yang sejak dahulu telah dipelopori oleh banyak cendikiawan muslim. Maka, dalam konteks ini, sesungguhnya ngaji tidak identik dengan apa yang disebut khazanah ilmu agama. Lebih dari itu.

Tulisan ini akan mencoba menarasikan ilmu pengetahuan yang memiliki perpaduan atas dua kutub ilmu, yakni ilmu agama dan ilmu umum. Bila kita telisik dari perbandingan dua kata tersebut, ilmu agama dan ilmu umum secara perbandingan tidak apple to apple. Yang benar bukan memperbandingkan atau memperhadapkan ilmu agama dengan ilmu non-agama, melainkan ilmu umum dengan ilmu khusus. Dengan begitu, penulis bisa mengkategorikan istilah ilmu agama adalah ilmu khusus dan ilmu umum adalah ilmu nonagama.

Bila mengkaji ilmu Islam diistilahkan ilmu agama dan bersifat khusus, kemungkinan terburuknya pandangan ilmu Islam akan dikatakan sangat sempit dan menjadikan paradigma ilmu Islam bersifat stagnan dan hanya berpusat pada wilayah eskatologi semata.

Prof Farid Wajdi pernah mengatakan: “Ajaran Islam tidak pernah melakukan dikhotomi antara ilmu satu dengan yang lain. Karena, dalam pandangan Islam, ilmu agama dan umum sama saja, berasal dari Allah. Islam juga menganjurkan umatnya bersungguh-sungguh mempelajari setiap ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan al-Quran merupakan sumber dan rujukan utama, ajaran-Nya memuat semua inti ilmu pengetahuan, baik yang menyangkut ilmu umum maupun ilmu agama.”

Dengan demikian, bila kita pahami bahwa ilmu agama memiliki peran untuk mengantar umat manusia hidup tenang dan bahagia didunia dan di akhirat, maka sains atau ilmu umum berfungsi untuk mempermudah aktivitas manusia di dunia dan menjadikan kebahagiaan di dunia semata.

Menurut sebuah amtsal, bahwa ilmu agama cenderung mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan, eksklusif, dan subjektif. Sementara, ilmu umum selalu mencari yang baru, tidak terikat dengan etika, progesif, bersifat inklusif, dan objektif. Meskipun keduanya memiliki perbedaan, namun juga memiliki kesamaan, yaitu bertujuan memberi ketenangan. Agama memberikan ketenangan dari segi batin dan keselamatan di akhirat, sebab ada janji kehidupan setelah mati. Sedangkan, ilmu (umum) memberi ketenangan dan sekaligus kemudahan bagi kehidupan di dunia.

Misalnya, tsunami dalam konteks ilmu agama adalah cobaan Tuhan dan sekaligus rancangan-Nya tentang alam secara keseluruhan. Oleh karena itu, manusia harus bersabar atas cobaan tersebut dan mencari hikmah yang terkandung di balik bencana tsunami.

Adapun, dalam perspektif ilmu umum, tsunami terjadi akibat pergeseran lempengan bumi, oleh karena itu para ilmuwan harus mencari ilmu pengetahuan untuk mendeteksi kapan tsunami akan terjadi dan bahkan kalau perlu mencari cara mengatasinya.

Tinggalkan Balasan