Menggali Khazanah Islam, Antara yang Klasik dan Kontemporer

Hal yang serupa juga dikemukakan oleh ulama kontemporer ‘Abdu Nasir Taufiq al-Atthar di dalam kitabnya Ta’addud az-Zaujat min an-Nawahi ad-Diniyyah wa al-Ijtima’iyyah wa al-Qonuniyah. Beliau mengatakan bahwa tidak ada dalih yang kuat dalam poligami selain mencari kesenangan yang dibalut dengan anjuran agama.

Pada intinya, eksistensi kitab klasik turats berpengaruh pada kemunculan kitab modern kontemporer. Alias, kitab-kitab kontemporer yang kita baca saat ini sumbernya dari kitab turats. Maka sangat ambigu rasanya jika seseorang mengambil ide dengan meniadakan sumber ide tersebut. Syekh Hassan Hanafi menyatakan turats adalah wasilah atau sarana, sedangkan modern adalah hasil atau maksud.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kefanatikan seseorang terhadap suatu hal biasanya timbul dari kesempitannya dalam menilai sesuatu. Oleh karena itu Mbah Moen sering kali menuturkan dalam ngajinya “العالم ان يكون عارفا بزمانه” (Orang pintar itu orang yang bisa menyesuaikan situasi sesuai zamannya). Beliau mewanti-wanti para santri agar tak mudah fanatik kepada sesuatu dan tetap moderat menyikapi perkembangan zaman.

Bagaimana menyikapi perkembangan zaman, ungkapan Kahlil Gibran ini patut dijadikan renungan: “Orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya. Orang-orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya.”

 

Tinggalkan Balasan