Kebiasaan setelah kematian di daerah ini adalah tidak mencerminkan badaya belasungkawa. Ikut larut dalam kesedihan karena ada seorang keluarga yang meninggal dunia. Justru terjadinya kematian berdampak kepada kematian lainnya, seperti menyembelih sapi, kerbau, atau kambing. Hal ini, sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Haris, S. Pd., salah satu tenaga pengajar di SMPN 1 Batang-Batang, bahwa kematian berdampak kemalangan yang berlipat-lipat. “Kehilangan anggota keluarga, di desa ini akan menyebabkan musibah yang berlipat-lipat.”
Permasalahannya bukan pada kebiasaan adanya hari pertama, kedua, dan seterusnya hingga hari ke tujuh (to’petto’ dalam bahasa Madura). Karena, di dalam pelaksanaan hari-hari tersebut terdapat kemakrufan seperti membaca doa, zikir, dan membaca ayat-ayat al-Quran.

Kebiasaan ini menjadi diperlukan oleh si mayit, meskipun masih terdapat perselisihan di kalangan ulama. Bagi ulama nahdliyyin, hal tersebut sangat baik dan dianjurkan untuk kemaslahatan orang yang telah meninggal. Masalahnya adalah ketika di dalam rumah yang mengalami musibah itu ditambah dengan musibah lainnya, semisal harus menyediakan menu masakan bagi orang-orang yang bertakziyah.
Bagi sebagian orang, mereka yang diberi harta lebih oleh Allah menyediakan makanan bagi orang-orang yang datang untuk ikut serta berdoa bukanlah sebuah permasalahan. Sebaliknya, mereka yang dari kalangan miskin, tidak mampu menyediakan masakan yang berlebih akan menjadi beban tersendiri dan akhirnya mencari jalan keluar dengan cara berhutang. Bukan hanya menanggung beban musibah karena kehilangan anggota keluarga, tetapi menanggung beban pinjaman karena memaksakan diri menyediakan menu masakan yang tidak seharusnya.
Hingga saat ini persoalan seperti ini masih terus berlanjut. Tidak ada dari kalangan kiai atau ustadz yang mencoba memberikan pemahaman bahwa menyediakan menu masakan bukan sebuah kewajiban. Memang benar, bersedekah buat yang meninggal adalah termasuk makruf, baik. Namun, memaksakan diri hingga menanggung beban utang yang tidak sedikit akan memberikan masalah tersendiri. Kemalangan dibangun di atas kemalangan lainnya, bertumpuk, dan berlipat-lipat.
