Menggugat Pendidikan untuk Membangun Bangsa

Di pesantren-pesantren tradisional, para kiai mendidik dengan hikmah dan teladan. Ilmu bukan ditransfer, tapi ditanamkan. Anak-anak tak hanya belajar “apa itu zakat”, tapi juga diajak menyaksikan, menyentuh, bahkan membagikan. Di situlah jembatan dibangun: antara ilmu dan amal, antara kata dan kasih.

Namun kini, banyak guru lebih takut pada supervisi birokrasi ketimbang keluhan batin muridnya. Waktu habis untuk administrasi, bukan asuhan. Kita sibuk mengejar standar luar, padahal yang paling dibutuhkan adalah kehadiran dalam ruang-ruang kecil: ruang tanya, ruang menangis, ruang belajar yang jujur.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertanyaannya: apakah kita sedang membangun manusia merdeka yang mencintai bangsanya, atau justru mencetak produk yang siap ekspor tapi enggan pulang? Apakah sekolah adalah ruang tumbuh akar atau justru tempat merapikan pot-pot plastik bernama prestasi?

Jembatan dan tembok hanya berbeda sedikit dalam proses pembangunan—sama-sama butuh semen dan batu bata. Tapi tujuannya beda: satu untuk menyambung, satu untuk memisahkan. Di sinilah pentingnya niat epistemik: apa dasar pengetahuan kita, dan ke mana ia diarahkan?

Tinggalkan Balasan