Menggugat Pendidikan untuk Membangun Bangsa

Ada pepatah Arab yang bijak: “Man laa ashla lahu, laa far’a lahu” — siapa yang tak berakar, tak akan pernah bercabang. Pendidikan yang tak terhubung dengan akar budaya, sejarah, dan nilai spiritual masyarakatnya hanyalah rumah kaca yang indah tapi tak berdaya di musim badai. Ia mungkin bisa panen cepat, tapi tanahnya tandus.

Ironisnya, atas nama “kemajuan”, pendidikan sering menjauh dari hal-hal yang membumi. Kita sibuk mengajar anak-anak coding sejak dini, tapi lupa mengajarkan mereka adab makan bersama keluarga. Kita ajarkan mereka berpikir kritis tentang struktur DNA, tapi tidak sempat menyinggung pentingnya menjaga struktur keluarga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika pendidikan dijadikan kendaraan menuju “taqarrub” (kedekatan) kepada Allah dan sesama, maka ia akan menjadi jembatan yang menyambung antara langit dan bumi, antara akal dan qalbu. Tapi bila hanya mengejar prestise, ranking, atau kapital semata, maka pendidikan jadi tembok: angkuh, tinggi, tapi dingin dan bisu.

Mari tengok hadis Nabi: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan jalan menuju surga.” Hadis ini tak menyebutkan Harvard, ranking PISA, atau skor TOEFL—tapi menyebut jalan menuju surga. Artinya, tujuan pendidikan bukan cuma kerja dan gaji, tapi keridhaan dan kedekatan kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan