Kesan pertama ketika membaca ayat tersebut adalah bahwa ada beberapa aspek yang menjadi cobaan manusia berupa kesenangan-kesenangan di dunia. Redaksi pada ayat tersebut dengan jelas ditujukan kepada laki-laki, dengan menyebutkan perempuan sebagai salah satu cobaan. Tentu ini dirasa timpang dan mendiskriminasi kaum perempuan yang dianggap menjadi momok masalah dalam hal meraih kebahagiaan akhirat.
Dalam penerjemahan awal, kita akan diarahkan pada pemaknaan bahwa perempuan sebagai orang ketiga dalam percakapan antara teks ayat tersebut dengan kaum laki-laki. Mudahnya, perempuan menjadi orang yang ghaib dan sedang diperbincangkan. Pemaknaan ini tentu akan kacau apabila ada pihak yang menuntut pemaknaan redaksi لِلنَّاسِ pada awal dari ayat tersebut, dengan melakukan korelasi terhadap otoritas al-Quran sebagai pedoman yang universal.

Lantas bagaimana ayat ini bisa dimaknai dengan adil tanpa menyisakan bercak dikotomi terhadap perempuan?
Kita seringkali diwarnai dengan sebuah anggapan bahwa perempuan masuk ke dalam sebuah kategori penyebab datangnya segala fitnah, nafsu syahwat, penggoda, dan term negatif lainnya. Akan tetapi, apakah kita juga pernah berpikir, bahwa apabila laki-laki diperintahkan untuk menjaga diri dari perempuan, lantas bagaimana perempuan harus menjaga dirinya dari godaan, nafsu, dan lain sebagainya?
Berangkat dari ketimpangan wacana ini, apabila tidak segera dijernihkan, maka perempuan akan terus dinarasikan sebagai subjek “penggoda”, namun tidak masuk dalam ranah subjek yang “digoda”. Tentu ini salah dalam perbincangan al-Quran sebagai penyeimbang dan rahmat bagi seluruh elemen manusia.
Objektif terhadap Teks
