Meniru Uzlah Para Sufis

Para sufis jelas tidak sependapat dengan yang terakhir itu, karena dalam ibadah yang mementingkan performance dan hiruk-pikuk seperti hampir sulit terhindari berseminya riya’, sekelumit perasaan senang dan bangga “diakui” orang lain. Sebuah ibadah, bagi mereka para sufis, tidak akan berarti jika dalam melakukannya terbetik riya’.

Hiruk-pikuk kehidupan bersama memang rupanya ditakdirkan atau tergiring untuk hanya dihiasi dengan peluapan nafsu, kepentingan, dan interest-interest subyektif dalam semua aspek kehidupan. Dan justru hiasan semacam itulah yang tak mungkin mengantarkan seseorang sampai pada puncak kontemplasi, perenungan, dan penghayatan dimensi ke-khaliq-an. Dalam bahasa yang sering kita dengar, seseorang tak mungkin mengerti tentang sesuatu sebelum ia keluar dari sesuatu itu sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Oleh sebab itu, wajar jika dalam tradisi masyarakat kita terkenal laku menyepi terutama dalam melakukan hubungan-hubungan religius; memburu makna ke-Khaliq-an dan ke-mahluk-an (ke-Tuhan-an dan kemanusiaan). Bahwa soal tempat: di gunung, goa, pantai, sungai, kuburan, masjid, langgar, tengah kebon, atau di rumah adalah soal pilihan dan sama sekali tidak menyangkut substansi keperluan menyepi.

Tinggalkan Balasan