Imam Abu Hamid al-Ghazaly akhirnya memilih mengungsi dari hiruk-pikuk Baghdad tempat ia mengajar beberapa tahun. Kitab masternya Ihya’ Ulumuddin yang sangat populer di kalangan muslim, khususnya pesantren di Indonesia, ditulis bukan saat ia mengajar di Universitas Nidhamiyah yang prestisius saat itu, melainkan sepenuhnya ketika berada di pengungsian yang jauh dari keramaian hidup sosial ekonomi dan politik. Dalam bahasa tasawuf, menyendiri untuk keperluan tertentu itu disebut uzlah.
Uzlah atau nyepi bagi al-Ghazaly memang lebih untuk konsentrasi menulis. Tetapi menulis baginya bukan hanya untuk menuangkan gagasan dan hasil analisisnya di atas kertas. Di samping pekerjaan kasat-mata itu, menulis adalah menuangkan hasil renungan terdalam baik dalam konteks metodologi keilmuan maupun tanggung jawab teologis dan kemanusiaan, sebuah tanggung jawab atas kebenaran dan keselamatan. Menulis, bagi al-Ghazaly, adalah perwujudan dari kesadaran ke-khaliq-an dan ke-makhluk-an sekaligus. Itulah yang paling pas jika menulis kita niati sebagai ibadah.

Ibadah, di luar ibadah sosial, memang lebih merupakan pergulatan pribadi yang memerlukan konsentrasi dalam ruang sepi. Bukankah shalat-shalat penting seperti tahajjud justru ditempatkan ketika manusia umumnya sudah terlelap di tengah malam. Hanya kepentingan syiar (performance, advokasi) saja yang kemudian memerlukan jamaah, kolektivitas, publikasi, dan hiruk-pikuk.
