Uzlah Versus Syiar
Uzlah dan syiar jelas berbeda arti dan maknanya. Pasti akan sia-sia jika memandang uzlah dalam konteks syiar, dan sebaliknya. Masing-masing mempunyai konteks yang berbeda; syiar wujud dalam konteks dan diperlukan untuk memanivestasikan keberagaman kita yang rahmatan lin ‘alamin, dalam tataran kehidupan bersama yang majemuk. Sementara, uzlah adalah ruang yang sangat diperlukan untuk memahami makna hidup dalam dimensi ke-khaliq-an ke-makhluk-an.

Jika al-Ghazaly, melalui uzlahnya, sukses melahirkan Ihya’ Ulumuddinnya yang bukan saja mempengaruhi intelektualitas sebagian kaum muslim, tetapi juga mendorong tumbuhnya spiritualitas mereka, dan jika para sufis berhasil menggetarkan hati sebagian kaum muslim untuk qana’ah dan wira’i, maka masihkah kita akan memalingkan muka saat berhadapan dengan para penyepi? Dan tidak mungkinkah, di saat terkurung di rumah seperti sekarang ini, kita muhasabah diri, kontemplasi merenungkan ke-khaliq-an dan ke-makhluk-an, meniru para sufis?
