Menjadi Guru Milenial yang Ideal

Pertama, menjelaskan tentang pentingnya kehadiran sosok guru di era milenial. Sosok guru yang baik yaitu yang mampu menginspirasi dan memberikan inspirasi bagi siswa-siswinya. Guru yang demikian tidak sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga mengembangkan keterampilan dan perubahan karakter mulia pada peserta didik.

Hanis Indriani, Guru SMPN 1 Toroh menulis, saat ini siswa-siswi sedang dijajah oleh gadget, yang segala perilakunya berkiblat dari yang dilihat. Smartphone, misalnya, memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap perilaku anak. Apalagi anak-anak di usia muda yang masih labil pemikirannya. Ditambah lagi latar belakang orang tua. Banyak kita temui orang tua bekerja di luar kota, bahkan ke luar negeri, mereka tinggal dengan keluarga terdekat, atau bahkan ada yang tinggal sendiri di rumah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Peran guru dalam situasi seperti ini sangatlah penting mengingat banyaknya anak-anak yang menggunakan smartphone. Menguasai teknologi sangat penting. Tetapi, guru yang berkarakter dan dapat menanamkan karakter pada siswa, itu jauh lebih penting, karena tidak semua guru mampu melakukan hal itu.

Kedua, menjelaskan model pembelajaran yang efektif di abad ke-21. Ada delapan artikel yang membahas terkait hal itu. Saya ambil contoh artikel yang ditulis Faiyah Dian Iswari. Faiyah mengusulkan agar guru harus mampu bisa mengimplementasikan keunikan pembelajaran di abad ke-21 ini agar peserta didik mampu untuk dapat berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Semua itu dilakukan dalam rangka mengatasi tantangan global yang kian kompleks itu.

Ketiga, seputar pendidikan pesantren, modern maupun salaf. Terkadang banyak orang sering keliru dalam memandang pesantren. Banyak orang memandang sinis pesantren. Pesantren terkadang diidentikkan dengan pendidikan yang kumuh, statis, dan fanatik. Padahal tidak demikian adanya. Justru bersinergi dengan sekolah formal, pesantren dapat membentuk pola pikir yang lebih berkembang dan maju serta tidak fanatik. Hal ini tergambar dari tulisan Eka Ristiana dengan judulnya “Pendidikan Pesantren Modern dan Salaf” (hal. 90).

Tinggalkan Balasan