Ada fragmen hidup Nyai Rahmatun, di tengah ketekunannya berdakwah, menulis, dan berorganisasi, menjadi rujukan orang-orang yang hendak bertarung berebut jabatan kepala desa. Tak hanya di desanya sendiri, Moncek Tengah, tapi juga datang dari desa-desa lain di wilayah Sumenep. Dan jago memperoleh doa dan amalan darinya tak pernah kalah.
Sesungguhnya, Nyai Rahmatun sendiri sering merasa risih dan menolak keinginan orang-orang yang berebut takhta desa itu untuk diberi doa-doa atau amalan-amalan tertantu agar memenangi kontestasi. Nyai Rahmatun tak mau dianggap sebagai seorang dukun atau orang sakti yang bisa memberi syarat-syarat dan mantra-mantra tertentu. Ia juga telah menjauhi panggung politik dan lebih fokus di dunia keilmuan dan pendidikan agama.

Namun, karena selalu didesak untuk dimintai sedikit petuah dan semacam amalan atau bacaan-bacaan pendek agar memperoleh aliran berkah, maka Nyai Rahmatun menjadikan momen-momen seperti itu sebagai jalan dakwah. Maka, pertama-tama, nasihatlah yang diberikan kepada para calon petinggi desa itu.

Terimakasih telah di terbitkan. Semoga suatu saat keinginan mempunyai buku biografi Nyai Rahmatun dapat terwujud, amin…