Tak cukup di situ saja. Acara yang katanya dikonsep sederhana ini ternyata disajikan begitu luar biasa. Diskusi buku menjadi salah satu titik paling mengesankan. Di malam itu, Literasi tidak dibicarakan sebatas kemampuan membaca dan menulis, melainkan sebagai cara berpikir dan bersikap. Santri, kecerdasan buatan (AI), dan masa depan peradaban didudukkan dalam satu lingkaran diskusi yang setara. Tidak ada ketakutan berlebihan terhadap teknologi, tetapi juga tidak ada sikap menelan mentah-mentah kemajuan. AI dipahami sebagai alat yang membutuhkan kendali nilai, sementara santri diposisikan sebagai subjek yang mampu memberi arah etik dan adab.
Dari diskusi itu, terasa jelas bahwa masa depan tidak cukup dibangun dengan kecanggihan, tetapi dengan kebijaksanaan. Dan dua hal itu tentunya diharap mampu diemban dan diselesaikan oleh para santri.

Dan tentunya, di forum istimewa itu, di tengah orang-orang luar biasa, kami hadir sebagai bagian dari Media Tebuireng. Kami diberi kesempatan menyampaikan testimoni terkait JDS. Tentu ini hal luar biasa. Bagi kami, kehadiran JDS adalah mitra seperjalanan dalam menghidupkan tradisi literasi pesantren.
Kami melihat jejaring ini sebagai ruang yang strategis dan bernilai, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Dari Tebuireng, kami membawa harapan agar JDS terus menjadi jalan kebaikan yang menguatkan ukhuwah, memperluas manfaat, serta meneguhkan peran santri di tingkat nasional maupun global.
Pertemuan malam tadi, juga menghadirkan sosok-sosok yang meninggalkan kesan mendalam. Pak Mukhlisin, dengan optimisme yang tenang dan menular, berbicara tentang masa depan ruang berkarya santri, seolah ia sedang menunjuk sesuatu yang nyata di hadapan mata. Dari cara pandangnya, kami belajar bahwa santri tidak kekurangan potensi, hanya sering kekurangan ruang. Optimisme beliau bukan optimisme kosong, melainkan keyakinan yang lahir dari pengalaman panjang merawat ekosistem karya.
Pak Mahwi Air Tawar hadir dengan energi khasnya. Jejak pengabdiannya tampak dari bagaimana jejaring ini terus bergerak dan bertahan. Dalam dirinya, kami melihat bahwa keberlanjutan bukanlah hasil dari satu perayaan, tetapi buah dari kerja harian yang sering kali diuji ragu, tapi ia konsisten, dan penuh pengorbanan.
