Menjahit Masa Depan di JDS

Namun, seluruh perjalanan ini sejatinya bermula dari sebuah pesan sederhana. Sebuah direct message Instagram dari Ning Atiqah, bagian dari JDS, bagian dari Tebuireng yang juga adalah dosen UIN Jakarta, yang pada Agustus lalu menawarkan kerja sama luar biasa dengan Media Tebuireng. Pesan singkat itu menjadi pintu masuk bagi percakapan yang lebih luas, hingga akhirnya berujung pada perjumpaan hari ini. Dari ruang digital, niat baik menjelma kolaborasi nyata. Dan ini yang sedang ingin kita rawat bersama-sama.

Maka sesungguhnya, kehadiran kami di Depok adalah bagian dari balasan atas kepercayaan itu. Sebuah balasan yang bukan hanya formal, tetapi juga emosional dan intelektual. Kami datang untuk merayakan, menyambung tali kolaborasi, dan memperluas ikhtiar menghidupkan warisan literasi santri dari ruang ke ruang yang lebih luas, melalui media-media pesantren, termasuk melalui JDS lewat duniasantri.co sebagai ruang syiarnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kami meyakini, JDS bukan sekadar wadah, melainkan rumah yang sedang dibangun bersama. Amanah tentang bagaimana santri memilih untuk terlibat, berpikir, dan memberi arah di tengah dunia yang terus berubah. Tujuh tahun ini adalah awal dari perjalanan yang lebih panjang.

Dan senja ini, kami pulang dengan keyakinan yang lebih utuh. Bahwa literasi terus memiliki rumah, bahwa santri memiliki masa depan yang layak diperjuangkan, dan bahwa kolaborasi adalah kunci untuk menjaga peradaban. Dari Tebuireng, kami menyampaikan hormat dan doa: semoga JDS terus tumbuh dengan keberkahan, melahirkan kebermanfaatan, membentuk generasi yang berilmu, beradab, dan berdampak bagi umat serta kemanusiaan.

Salam Literasi untuk JDS yang sangat luar biasa. Tentu catatan sederhana ini tak mampu mewakili keistimewaannya.

Sampai jumpa.
—di ruang dan waktu yang sama-sama kita ikhtiarkan melalui karya.

Tinggalkan Balasan