Perjalanan ini bermula dari Tebuireng, sebuah tanah yang tidak hanya mencatat sejarah, tetapi juga perjuangan besar tentang kemerdekaan dan keberlanjutan peradaban. Keberangkatan kami tidak sekadar menghadiri sebuah undangan, melainkan ada niat yang harus terus dijahit untuk tetap tersambung. Melalui cara berdiskusi, menumbuhkan optimisme kolaborasi untuk masa depan, serta mengikhtiarkan mimpi-mimpi lain yang ingin diberi ruang dan nama.
Kurang lebih dua puluh tiga stasiun kami lewati, kereta api itu membawa kami dari Jombang, Jawa Timur menuju Depok, Jawa Barat.

Dalam perjalanan ini kami menemukan sebuah rumah yang menghadirkan makna. Sebuah ruang yang dalam tujuh tahun perjalanannya telah tumbuh bukan hanya sebagai tempat temu, tetapi sebagai ikhtiar kolektif yang mempertemukan nilai, ilmu, dan cita-cita santri di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Perayaan menjelang tujuh tahun kelahiran jejaring duniasantri (JDS) pada Selasa (27/1/2026) malam, tidak dirayakan dengan gemerlap berlebihan, melainkan dengan tumpengan yang hangat dan penuh makna. Tumpeng menjadi simbol syukur, bahwa kerja-kerja kecil yang dilakukan dengan kesungguhan, kesabaran, dan konsistensi ternyata mampu menjelma menjadi ruang bersama yang hidup.
Di ruang itu, santri berdiskusi banyak tentang menjaga dan menyelamatkan peradaban manusia. Orasi-orasi disampaikan bukan dengan nada menggurui, tetapi dengan keberanian gagasan yang jujur dan berakar.
Tak hanya itu, di lantai tiga sebuah rumah di Jalan Garuda II Nomor 7 itu, juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi, yang mengalir sebagai pengingat bahwa bahasa selalu memiliki daya hidup. Ia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga medium perenungan. Begitu pun dengan pertunjukan hadrah yang menggema, menyatukan tradisi dan spiritualitas, berhasil mengingatkan bahwa santri tumbuh dari warisan yang panjang, warisan yang tidak menghalangi langkah ke depan, justru menjadi penuntun dan penentu arah keputusan dan kebijakan dalam memaknai kehidupan.
Tak cukup di situ saja. Acara yang katanya dikonsep sederhana ini ternyata disajikan begitu luar biasa. Diskusi buku menjadi salah satu titik paling mengesankan. Di malam itu, Literasi tidak dibicarakan sebatas kemampuan membaca dan menulis, melainkan sebagai cara berpikir dan bersikap. Santri, kecerdasan buatan (AI), dan masa depan peradaban didudukkan dalam satu lingkaran diskusi yang setara. Tidak ada ketakutan berlebihan terhadap teknologi, tetapi juga tidak ada sikap menelan mentah-mentah kemajuan. AI dipahami sebagai alat yang membutuhkan kendali nilai, sementara santri diposisikan sebagai subjek yang mampu memberi arah etik dan adab.
Dari diskusi itu, terasa jelas bahwa masa depan tidak cukup dibangun dengan kecanggihan, tetapi dengan kebijaksanaan. Dan dua hal itu tentunya diharap mampu diemban dan diselesaikan oleh para santri.
Dan tentunya, di forum istimewa itu, di tengah orang-orang luar biasa, kami hadir sebagai bagian dari Media Tebuireng. Kami diberi kesempatan menyampaikan testimoni terkait JDS. Tentu ini hal luar biasa. Bagi kami, kehadiran JDS adalah mitra seperjalanan dalam menghidupkan tradisi literasi pesantren.
Kami melihat jejaring ini sebagai ruang yang strategis dan bernilai, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Dari Tebuireng, kami membawa harapan agar JDS terus menjadi jalan kebaikan yang menguatkan ukhuwah, memperluas manfaat, serta meneguhkan peran santri di tingkat nasional maupun global.
Pertemuan malam tadi, juga menghadirkan sosok-sosok yang meninggalkan kesan mendalam. Pak Mukhlisin, dengan optimisme yang tenang dan menular, berbicara tentang masa depan ruang berkarya santri, seolah ia sedang menunjuk sesuatu yang nyata di hadapan mata. Dari cara pandangnya, kami belajar bahwa santri tidak kekurangan potensi, hanya sering kekurangan ruang. Optimisme beliau bukan optimisme kosong, melainkan keyakinan yang lahir dari pengalaman panjang merawat ekosistem karya.
Pak Mahwi Air Tawar hadir dengan energi khasnya. Jejak pengabdiannya tampak dari bagaimana jejaring ini terus bergerak dan bertahan. Dalam dirinya, kami melihat bahwa keberlanjutan bukanlah hasil dari satu perayaan, tetapi buah dari kerja harian yang sering kali diuji ragu, tapi ia konsisten, dan penuh pengorbanan.
Namun, seluruh perjalanan ini sejatinya bermula dari sebuah pesan sederhana. Sebuah direct message Instagram dari Ning Atiqah, bagian dari JDS, bagian dari Tebuireng yang juga adalah dosen UIN Jakarta, yang pada Agustus lalu menawarkan kerja sama luar biasa dengan Media Tebuireng. Pesan singkat itu menjadi pintu masuk bagi percakapan yang lebih luas, hingga akhirnya berujung pada perjumpaan hari ini. Dari ruang digital, niat baik menjelma kolaborasi nyata. Dan ini yang sedang ingin kita rawat bersama-sama.
Maka sesungguhnya, kehadiran kami di Depok adalah bagian dari balasan atas kepercayaan itu. Sebuah balasan yang bukan hanya formal, tetapi juga emosional dan intelektual. Kami datang untuk merayakan, menyambung tali kolaborasi, dan memperluas ikhtiar menghidupkan warisan literasi santri dari ruang ke ruang yang lebih luas, melalui media-media pesantren, termasuk melalui JDS lewat duniasantri.co sebagai ruang syiarnya.
Kami meyakini, JDS bukan sekadar wadah, melainkan rumah yang sedang dibangun bersama. Amanah tentang bagaimana santri memilih untuk terlibat, berpikir, dan memberi arah di tengah dunia yang terus berubah. Tujuh tahun ini adalah awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Dan senja ini, kami pulang dengan keyakinan yang lebih utuh. Bahwa literasi terus memiliki rumah, bahwa santri memiliki masa depan yang layak diperjuangkan, dan bahwa kolaborasi adalah kunci untuk menjaga peradaban. Dari Tebuireng, kami menyampaikan hormat dan doa: semoga JDS terus tumbuh dengan keberkahan, melahirkan kebermanfaatan, membentuk generasi yang berilmu, beradab, dan berdampak bagi umat serta kemanusiaan.
Salam Literasi untuk JDS yang sangat luar biasa. Tentu catatan sederhana ini tak mampu mewakili keistimewaannya.
Sampai jumpa.
—di ruang dan waktu yang sama-sama kita ikhtiyarkan melalui karya.
