Mens Rea Pandji Pragiwaksono

“Mens Rea” dan Kewajiban Berpikir

Demokrasi kita ramai. Suaranya keras. Gesturnya meyakinkan. Tapi sering kali, pikirannya kosong.

Kita lihat, terutama di medsos, banyak orang berdebat dengan penuh emosi, namun miskin argumentasi. Membela pilihan seperti membela harga diri. Menyerang lawan seolah sedang berjihad. Padahal yang dipertaruhkan bukan iman, melainkan logika.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di tengah kebisingan itu, Pandji Pragiwaksono naik panggung dengan Stand Up-nya. Bukan sebagai ustaz. Bukan pula sebagai akademisi. Ia datang sebagai komika, membawa satu istilah dingin dari dunia hukum: Mens Rea.

Dan justru di situlah letupan refleksinya.

Ketika Salah Tidak Lagi Sederhana

Dalam hukum pidana, mens rea adalah sikap batin seseorang saat melakukan tindak pidana atau kesadaran saat seseorang melakukan perbuatan. Bisa juga secara sederhana diartikan gulity mind atau niat jahat.

Apakah ia tahu? Apakah ia sengaja? Atau ia memilih untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu?

Kesalahan tidak selalu lahir dari ketidaktahuan. Kadang ia lahir dari kemalasan berpikir. Dari sikap “Ah, semua orang juga begitu.” Dari keputusan untuk ikut arus, tanpa pernah bertanya ke mana arus itu menuju.

Pandji mengusik titik ini. Bukan dengan ceramah. Bukan dengan dalil. Tapi dengan humor yang menyentil bahkan menohok. Dan bagi sebagian orang, menyentil itu terasa seperti menampar dan menghina.

Niat dan Pikiran

Bagi santri, istilah mens rea seharusnya tidak asing. Kita mengenalnya dengan nama lain: niat. Baik itu niat baik maupun niat jahat.

Dalam Islam, niat bukan pelengkap. Ia fondasi. Amal tanpa niat yang benar, gugur nilainya. Ibadah tanpa kesadaran, hanya tubuh tanpa nyawa.

Namun ada satu wilayah yang sering kita lupakan: niat dalam berpikir.

Santri diajari adab dalam berbicara. Adab dalam beramal. Adab kepada guru, kepada orang tua, kepada lingkungan. Tapi apakah kita sungguh diajari adab dalam menyusun pendapat?

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan