Mens Rea Pandji Pragiwaksono

“Mens Rea” dan Kewajiban Berpikir

Pandji tidak meminta kita setuju. Ia meminta kita berpikir. Dan bagi masyarakat yang terbiasa disuapi kesimpulan, ajakan berpikir terasa mengancam.

Setuju Tanpa Kultus

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Penting ditegaskan: Pandji bukan ulama bahkan nabi. Ia bisa keliru. Ia bisa bias. Ia mungkin dan terkadang menyederhanakan masalah kompleks.

Tapi menolak gagasan hanya karena pembawanya bukan dari “golongan kita” adalah tanda bahaya. Itu bukan sikap kritis. Itu fanatisme.

Santri yang matang tidak sibuk memilih siapa yang berbicara. Ia sibuk menimbang apa yang dibicarakan. Setuju tanpa menyembah. Tidak setuju tanpa membenci. Itu adab intelektual!

Melakukan sesuatu tanpa berpikir yang sehat adalah pengkhianatan. Menyebar informasi tanpa cek adalah kelalaian. Mendiamkan kebohongan karena “bukan urusan saya” adalah bentuk mens rea pasif.

Akal bukan hiasan. Ia alat pertanggungjawaban.

Dan santri, dengan segala tradisi keilmuannya, seharusnya berada di barisan terdepan dalam menjaga akal publik. Bukan menjadi pengikut paling ribut. Bukan pula penonton paling diam.

Adab yang Terlupa

Pesantren mengajarkan adab sebelum ilmu. Itu benar. Dan tetap relevan.

Namun hari ini, kita butuh satu adab tambahan: adab dalam berpikir. Berpikir jujur. Berpikir utuh. Berpikir bertanggung jawab.

Karena di zaman ini, kebodohan sering disengaja. Dan kesalahan paling berbahaya bukan yang dilakukan dengan marah, melainkan yang dilakukan dengan sadar, lalu dibiarkan.

Di situlah mens rea bekerja. Bukan di ruang sidang. Tapi di dalam kepala kita masing-masing.

Tinggalkan Balasan