Mens Rea Pandji Pragiwaksono

“Mens Rea” dan Kewajiban Berpikir

Santri diajari adab dalam berbicara. Adab dalam beramal. Adab kepada guru, kepada orang tua, kepada lingkungan. Tapi apakah kita sungguh diajari adab dalam menyusun pendapat?

Berpikir juga perbuatan. Dan setiap perbuatan, menuntut pertanggungjawaban.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Masalah terbesar demokrasi Indonesia bukan kurangnya orang pintar. Tapi melimpahnya orang malas berpikir. Malas memeriksa data. Malas membaca utuh. Malas mendengar argumen yang berbeda. Dan malas-malas yang lain.

Lalu kita menyebutnya “keyakinan”. Padahal sering kali itu cuma prasangka yang dirawat.

Dalam konteks ini, mens rea menjadi cermin yang jujur. Kesalahan politik tidak selalu karena tertipu. Dan kita seakan-akan bersedia untuk ’ditipu’. Kadang karena ingin nyaman. Karena lebih enak percaya pada yang sejalan. Karena berpikir kritis itu melelahkan.

Dan ya, lelah memang. Tapi sejak kapan kebenaran lahir dari kemalasan berpikir?

Santri dan Tanggung Jawab Sosial

Santri bukan makhluk steril dari politik. Ia warga negara dan bagian dari masyarakat. Diamnya punya dampak. Suaranya punya konsekuensi. Menghindari politik bukan berarti netral. Sering kali itu hanya cara halus untuk lari.

Dalam fikih, diam terhadap kebatilan bukan posisi aman. Ia kadang posisi bermasalah, walaupun mungkin itu salah satu sikap inkar qolb (tidak setuju atas kemungkaran).

Karena kebatilan jarang tumbuh karena kejahatan besar. Ia tumbuh subur karena pembiaran kecil. Males mikir bisa jadi bukan dosa ringan. Ia bisa berpotensi menjadi dosa sosial.

Sebagian orang tersinggung dengan Pandji, “Kenapa kritik ke Pemerintah datang dari komika?” Seolah kebenaran hanya sah jika disampaikan dari mimbar.

Padahal sejarah Islam penuh satire, penuh sindiran. Sangat berkelas dan memiliki humor cerdas.

Komedi bukan sumber kebenaran. Tapi ia alarm. Ia membangunkan dan mampu mengusik zona nyaman.

Tinggalkan Balasan